Kayuselem

Makna Yadnya menurut sastra agama dan hasil perenungan

by on Dec.25, 2015, under Buah Pikiran

Apakah itu yadnya ? dalam agama Hindu yadnya lumrah disebut dalam hal upacara sehari-hari, misal yadnya sesa, segehan, caru, dan dalam berbagai bentuk lainnya. Apakah yadnya hanya suatu bentuk menghaturkan kurban? Kata Yadnya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari akar kata “yaj” yang artinya memuja, mempersembahkan, atau korban. Dalam kitab Bhagawadgita dijelaskan Yadnya artinya suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keiklasan dan kesadaran untuk melaksanakan persembahan kepada Tuhan. Yadnya berasal dari sloka berikut : “sahayajnah prajah srishtva, paro vacha prajapatih, Anema prasavish dhvam, esha yostvisha kamadhuk” Pada zaman dulu kala Praja Pati (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan manusia dengan Yadnya dan bersabda. Dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu. Hal ini kemudian menimbulkan Tri Rna, atau tiga hutang yang harus di bayar pada saat manusia lahir ke dunia. Untuk itulah, kemudian dalam agama Hindu ada istilah Panca Yadnya, yaitu yadnya kepada Tuhan, Dewa Yadnya, kepada Manusia, Manusa Yadnya, Rsi/Guru Yadnya, Pitra/Leluhur Yadnya, dan Bhuta Yadnya.

Dalam pelaksanaannya, seperti kita ketahui bersama, khususnya di Bali, pelaksanaan Panca Yadnya masih terbatas pada kehidupan beragama, yaitu sesuai tiga kerangka agama Hindu, maka yang lebih ditekankan adalah upacara. Dua kerangka yang lain, sering dilupakan, karena mungkin memang bidang kehidupannya sedikit berbeda, yaitu bukan dari bidang agama, melainkan bidang sosial maupun kehidupan pribadi. Dua kerangka tersebut adalah dari segi tatwa dan etika. Dari segi Tatwa, Panca Yadnya hendaknya dipahami dari sastra agama dan juga filsafat yang terkandung di dalamnya. Sebuah korban suci atas hutang/Rna dari Yang Maha Esa, haruslah dipahami sebagai sebuah cinta kasih, keterikatan kita akan asal muasal kita kepada Beliau yang Maha Ada dan Kekal. Itulah makna hutang/rna. Dengan melaksanakan yadnya, kita berusaha kembali mengingatkan diri kita akan jadi diri yang sejati.

(continue reading…

Leave a Comment :, , , more...

Karma Phala, sebuah aksi-reaksi

by on Nov.06, 2015, under Buah Pikiran

Karma Phala tersusun dari kata karma dan phala. Menurut terjemahan bahasa sanskerta, Karma berarti perbuatan dan phala artinya buah. Sehingga dapat disimpulkan, Karma Phala maksudnya adalah buah atau hasil dari setiap perbuatan. Agama Hindu mengenal adanya Tri Kaya Parisudha, yaitu Tiga hal/perbuatan (pikiran, perkataan dan tindakan) yang patut disucikan untuk memperoleh Phala yang baik.

Berangkat dari pengertian secara harfiah tersebut, Karma Phala adalah sebuah reaksi dari sebuah aksi yang dilakukan baik oleh pikiran, perkataan maupun tindakan seorang manusia. Dalam Panca Sraddha, disebutkan bahwa Agama Hindu percaya dengan adanya Karma Phala. Karma Phala dalam hal ini menurut pengertian saya berdasarkan pengetahuan yang telah diketahui seperti disebutkan di atas, tiada lain adalah sebuah reaksi terhadap aksi. Aturan umum yang berlaku adalah bahwa sifat alam semesta buwana agung maupun manusianya atau buwana alit selalu sejalan, maka pengembangan sikap Tri Kaya Parisudha akan menghasilkan Karma Phala yang mendukung terciptanya kebahagiaan setiap makhluk dan keberlangsungan alam semesta. Semesta dan isinya selalu menuju kepada Keseimbangan, karena itulah semuanya berputar dalam kehidupan ini.

(continue reading…

Leave a Comment :, , more...

Sebuah Pilihan Hidup

by on Aug.20, 2015, under Buah Pikiran

lentera

Om Swastyastu

Zaman sekarang, khususnya di Bali semakin semarak dan antusiasnya krama Bali Hindu dalam melakukan yadnya terutama dalam lingkup upacara, tentu sangat membanggakan. Terlebih semakin luasnya informasi dalam pembuatan sarana upakara yaitu banten dan lain-lain secara terang-terangan dan terbuka untuk umum dalam acara televisi, workshop maupun kegiatan ekstra di sekolah. Hal ini mendorong umat untuk semakin meningkatkan srada bhkatinya dalam melakukan yadnya.

Tentu saja kemajuan dalam bidang pelaksanaan yadnya ini patut diimbangi adanya pemahaman akan pelaksanaan yadnya dalam diri, kepada sesama manusia, dan lingkungan sebagai perwujudan Tuhan itu sendiri. Apa saja bentuk yadnya kepada diri sendiri? salah satunya adalah bernapas, makan minum yang satwik, melakukan olah raga, yoga, belajar dan sbgnya. Yadnya kepada sesama seperti toleransi, tatakrama, teposeliro, tenggang rasa, gotong royong, persaudaraan, saling menghormati dan tolong menolong tanpa pamrih. Yadnya kepada lingkungan adalah dengan menjaga dan melestarikan keseimbangan alam beserta isinya, reboisasi, penghijauan, tidak melanggar sempadan sungai, laut, tebing, jalan dan lainnya misalnya. Tidak merusak hutan, mengotori air, eksploitasi berlebihan dan sbgnya.

(continue reading…

Leave a Comment :, , , , more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form di bawah untuk menjelajahi situs:

Tetap tidak ketemu? Tinggalkan komentar agar kami bisa mencarikan untuk Anda!

Temans

Website dan Blog kawan

Arsip

Semua posting, secara kronologis..