Kayuselem

Silsilah Mahagotra Pasek Kayuselem

by on Jun.06, 2011, under Dunia Babad


Pasek Kayuselem adalah nama sebuah keluarga (soroh / clan) di Pulau Bali yang dimulai sekitar tahun 1000 Masehi.  Tempat lahirnya adalah di Batur Kabupaten Bangli. Awal kehidupan keluarga ini terjadi saat pemerintahan Cri Haji Tapohulung di Samplangan.Keberadaannya konon diciptakan dari Tonggak Kayu (Pohon) Asam atau disebut Kayu Selem (Ireng). Berkat kemampuan bathin Mpu Semeru yang terpesona akan keberadaan tuwed kayu yang terbentuk menyerupai seorang manusia yang tampan, diciptakanlah seorang manusia yang kemudian diangkat menjadi anak oleh beliau Mpu Semeru yang diberi nama Kamareka.

Oleh sebab Mpu Semeru adalah seorang brahmana yang sangat sakti, beliau mengajarkan Kamareka pengetahuan suci Sanghyang Ongkara mantra sehingga beliau memiliki kemampuan menjadi seorang brahmana. Pada saatnya, Mpu Semeru mendiksa (podgala) anak angkatnya menjadi brahmana/bhujangga pada masa itu dengan gelar Mpu Bandesa Dryakah atau Mpu Kamareka.

Mpu Semeru adalah adik kandung dari Mpu Gni Jaya, dan saudara tua dari Mpu Gana, Mpu Kuturan dan Mpu Baradah. Beliau adalah lima pendeta dari Jawa Timur. Di Bali, ke lima Pendeta ini disebut sebagai Panca Tirtha.

Adapun silsilah keturunan dari Mpu Kamareka adalah sebagai berikut :

Mpu Semeru dengan kekuatan bathinnya mengadakan :
Bhujangga Mpu Bendesa Dryakah, disebut pula Bhagawan Kamareka di Tampurhyang (Batur) bertapa di GwaSong (Songan) dan didatangi Bidadari Kuning.
Dengan Bidadari Kuning Mpu Kamareka berputra :

  1. Ki Kayu Ireng setelah dipodgala bergelar Mpu Gni Jaya Mahireng
  2. Ni Kayu Ayu Cemeng

Mpu Gni Jaya Mahireng berputra :

  1. Sang Mpu Kayu Ireng
  2. Mpu Made Celagi
  3. Mpu Nyoman Tarunyan
  4. Mpu Kaywan Balingkang
  5. Ni Ayu Kayu Selem

Mpu Kayu Ireng menurunkan :

  1. Sang Hulu
  2. Kayu Selem
  3. Sang Wreksa Ireng
  4. Sang Tarunyan
  5. Ni Ayu Dani

Mpu Nyoman Tarunyan menurunkan :

  1. Ni Ayu Taruna
  2. Sang Tarunyan
  3. Ni Taruni

Mpu Kaywan Balingkang menurunkan :

  1. Sang Balingkang
  2. Sang Blandingan
  3. Sang Tangga
  4. Ni Ayu Buli
  5. Ni Ayu ireng
  6. Ni Ayu Kinti
  7. Ni Ayu Kaywan

Demikian seterusnya diantara sepupu saling ambil mengambil.

:, , ,

11 Comments for this entry

  • ketut winasa

    Om Suwastiastu, tiang ketut winasa saking negara, yening wenten buku babad ne dados tiang tunas copyane,

    [Reply]

    admin Reply:

    Suksma sampun mampir ring blog niki.

    Mangkin wenten buku terbitan Yayasan Tan Mukti Palapa kakawi olih Prof.Dr.Drs. I Ketut Riana,SU indik Lalintih Sang Catur Sanak Bali KAYU SELEM, CELAGI, TARUNYAN, KAYWAN BALINGKANG LAN WARGA BALI AGA

    Ring buku punika, wenten babad Pasek Kayuselem asli sane medaging stempel Dalem Samprangan, kakawi olih I da Pedanda Sakti Wawu Rauh, mangkin dados sungsungan Warga Kayuselem ring Les Tejakula Buleleng.

    Dumogi manggihin rahayu..

    Suksma

    [Reply]

  • inyoan sukadiasa

    om swastiastu……mohon infonya mengenai silsilah pasek celagi yang lengkap, dan media apa yg menguraikan atau menerbitkanya,suksma

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu, indik silsilah Pasek Celagi, silahkan menghubungi Jro Mangku Ulun Sari Les Bpk Prof Dr Drs I Ketut Riana SU, karena beliaulah yang menulis buku Lalintih Sang Catur Sanak Bali, yang diterbitkan oleh Yayasan Tan Mukti Palapa Perum Candra Asri Gianyar. Secara tersurat, memang tidak jelas dituliskan silsilah keturunan dari Mpu Made Celagi atau I Gusti Pasek Celagi, hanya saja disebutkan bahwa beliau menguasai wilayah Karang Kecing (Karangasem) Tulamben dan Padang pada jamannya.

    [Reply]

    I Made Winarya,ST Reply:

    Saudaraku Admin mohon tiyang di kasih info : apa Bpk Prof. Dr. Drs. I Ketut Riana, SU ini adalah keluarga dari Kayuselem, dan dari mana alamatnya tyang juga warga Kayuselem saking Bajera,Tabanan, tapi tinggal di Denpasar. Tyang ingin berkenalan ndan berkonsultasi dengan beliau dalam hal “Keluarga Besar Kita Kayuselem”dan dimana alamat atau Telp dari Bpk Prof yang bisa dihubungi. Suksma’ Salam Kelg Kayuselem”

    [Reply]

  • inyoman sukadiasa

    katanya…….pasek catur sanak yaitu pasek kayu selem, pasek celagi, pasek kayuan dan pasek trunyan mesemeton ,silsilah kayu selem diatas menguraikan bahwa kayu selem awalnya dari arang menyerupai manusia dan di hidupkan oleh mpu semeru……..trusss…dimana letak dan posisi catursanaknya dan semeton celagi, kayoan dan trunyan…..mohon infonya,suskma

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu…

    Yang dimaksud dengan Catur Sanak yaitu keturunan kedua Ida Mpu Kamareka, yaitu putra-putra Mpu Gnijaya Mahireng yang masing-masing bergelar setelah podgala yaitu :
    1. Mpu Kayu Ireng
    2. Mpu Made Celagi
    3. Mpu Nyoman Tarunyan
    4. Mpu Kayuan Balingkang

    Suksma..Om Shanti

    [Reply]

  • Wayan Serongga

    pak admin, tyang mau bertanya tentang pemuput upacara baik piodalan/dewayadnya dan atau pitrayadnya, saya sebagai seorang warga kayu selem,seadanya di tempat saya, dimana beberapa saudara ada perselisihan paham mengenai seorang pemuput antara Mpu yang memang berasal dari sanak kayu selem sendiri, sedangkan saudara yang lain memang sedari dulu bersisya dengan Brahmana dalam hal ini pemuput upacara adalah Ida Pedanda (ida bagus), karena saya adalah bersisya kepada Brahmana (Pedanda red.) maka disarankan saya oleh saudara yang pemuput adalah Mpu untuk mengikutinya, dan timbulah kontroversi dimana saya ternyata tidak dapat menerima hal tsb,, dengan tegasnya saudara saya berkata bahwasanya patutlah seorang Keturunannya dipuput oleh sorohnya, karena Mpu Kamareka sendiri adalah seorang pemuput upacara, tidak terlaksanya hal tersebut,, maka tersebutlah sang keturunan menerima konsekuensinya dalam hal ini adalah “Salahang Bhatara Kawitan” ! dari kronologi yang saya sampaikan tolong penjelasan pak admin untuk pencerahan, sehingga tidak timbulah belenggu di benak saya,, atau bisa diceritakan kembali sejarahnya agar dapat saya memahami meskipun sudah berkali-kali saya baca, tapi belum menemukan jawabanya,,, maaf agak panjang lebar pak admin.. hahahaha wkwkwk tyang seperti curhat puniki, mohon bantuanya ,,

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu Pak Wayan, suksma sampun mampir ring blog puniki.

    Untuk menjawab pertanyaan Pak Wayan, tityang hanya sebatas memberikan keterangan dan saran saja. Adapun permasalahan tersebut tyang berikan pandangan dari beberapa segi yaitu :

    1. Pada Babad Kayuselem memang benar adanya beliau Tabik Pakulun Ida Betara Kawitan Mpu Kamareka telah bergelar Mpu yang di tapak langsung oleh Ida Mpu Semeru (Panca Tirtha), dan keturunannya diberikan wewenang untuk muput upacara untuk orang-orang Bali Aga pada jamannya tidak terkecuali untuk keturunannya sendiri dengan syarat tetap memegang teguh tata krama kawikon nya. Tersurat dalam Babad, anugerah Mpu Semeru kepada Mpu Kamareka “….bapa hana warah ring kita, hanugraha satriya kabrahmanan hanging tlung turunan, wusanmangkana dadi hamingsor, haryya kapasekan, hapan kita kareka, dening watek dhewata kabeh, riwkasan yan tindhih ri titi gagaduhan satriya kabrahmanan, yan tan tindhih hamingsor, sentana dudu sentana, ya dadi wang kawula cingkrang mnuh ngaranya, yan tan wruh ring kalingan, ritkaning kapatianya, tan wnang pinrastista dening sadhaka tan wnang ginseng, mapendhema jugga, yan tindhih ring titi gagaduhan, ya satriya kabrahmanan, ngaranya, yan wus telung turunan, dadi haryya kayu hireng kapasekan, wkasan dadi treh kapasekan, ngaranya, ri tkaning patinya wnang kaprastista dening sang brahmana kumenuh, wnang hanggya badhe tumpang pitu, munggah badawang nala, mnek gringsing, kampid, kakitir mas, kawat mas pangiket galar hika kengetakna pawarah-warahen ring pratisentananta hasing wruh wnang mujangga sor ring bujangga dadi dukun riwkasan mwang rerep sentana gineseng jugga kawitanya dadi hanging yan tanana brahmana kumenuh sanak tang hulun wenang, ring wartta mana tka mangke, haniwakaken wedha japa mantra, kita hanakku wnang mrastista preti sentananta kabeh …”.

    Terjemahan bebasnya “….Ayah sudah memberimu Trah Wangsa Satriya Kabrahmanan, meskipun sebatas 3 turunan, setelah 3 turunan jadilah kamu wangsa arya kepasekan. Oleh karena, penjelmaanmu sebagai manusia direncanakan oleh para dewata, dikemudian hari kalau anak keturunanmu teguh mempertahankan tat krama dan watak Satriya Kabrahmanan tetap, kalau tidak teguh akan turun martabat wangsamu meskipun keturunan sendiri seperti bukan keturunan. Mereka menjadi kawula congkrang manuh, namanya, kalau tidak tahu asal muasal. Pasa saat datang kematiannya, mayatnya tidak boleh di pratista oleh Sang Sadhaka, tidak boleh dibakar, harus dikubur. Kalau kukuh mempertahankan trah Satriya Kabrahmanan, kalau genap 3 turunan menjadi Arya Kayu Irang Kepasekan, kemudian jika tidak turun jadi trah Kepasekan. Pada upacara kematiannya boleh dipuput oelh Brahmana Kemenuh boleh memakai bade tumpang 7, naik di bedawang nala, naik geringsing, bersayap, kakitir emas, kawat emas pengikat kawat rante, ingatkan kepada anak turunanmu, masing-masing diantaranya. Kalau memiliki ilmu boleh jadi Bujangga, lebih rendah dari Bujangga boleh jadi dukun. Ke depan kalau surut keturunannya dibakar kawitannya juga boleh, sekarang ataupun dikemudian hari, bisa merapalkan Weda Japa Mantra. Anakku berhak mratista seketurunanmu semua…”

    Dari penjelasan di atas, dapat diartikan bahwa Warih Ida yang telah podgala madwijati boleh muput keturunannya, dan berlaku sebaliknya tidak salah jika Nak Lingsir yang muput upacara dari soroh sendiri asalkan telah dwijati dan mampu secara kedyatmikan. Selain itu boleh juga dipuput oleh Nak Lingsir dari Brahmana Kemenuh atau keturunan yang lain misal Pedanda Manuaba, Keniten, Mas..dst

    2. Dilihat dari sisi Kesatuan Tafsir Agama Hindu terhadap aspek Agama Hindu, bahwa untuk menjadi seorang Brahmana wajib mengikuti persyaratan dan upacara yang ditentukan dan diakui oleh Parisadha Hindu Dharma Pusat. Untuk merujuk hal ini silahkan ikuti link berikut : Pedoman Diksa. Sehingga, yang berhak muput upacara baik dewa yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya dst adalah beliau yang telah medwijati dengan telah diakui oleh lembaga yang berwenang.

    3. Dari segi aplikasi di lapangan, tyang sarankan agar dirembugkan baik-baik dengan keluarga, dengan meyakinkan bahwa tidak ada hal yang salah, hanya masalah kebiasaan kita saja. Sehingga perlu dicari jalan tengahnya, semisal jika dipuput oleh Ida Mpu dari soroh sendiri, tidak apa-apa tetap nunas tirta ke grya Brahmana tempat bersisya. Begitu juga sebaliknya, sehingga sama-sama jalan, dan tetap dalam koridor yang benar dan tujuan yang sama yaitu upacara berjalan lancar dan tetap saling mengasihi dalam keluarga itu yang utama.

    Mudah-mudahan bermanfaat, suksma. Om Shanti

    [Reply]

  • suatika

    pak admin, saya mau tanya mengapa dibesakih perdaman pasek kayu selem satu natah dengan pasek manik mas, apakah ada saling keterkaitannya?

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu,
    untuk menjawab hal ini tentu kita perlu mempelajari sejarah dibangunnya Pura-Pura Pedharman di Besakih.
    Namun jika dilihat dari sisi Babad, dan sejarah Bhujangga yang ada di Bali, bahwa keterkaitan Kayuselem, Ida dang Hyang Dwijendra (sebagai leluhur keluarga Brahmana Siwa sekarang) dan Bendesa Manik Mas, adalah keterkaitan di bidang kepanditaan. Keturunan Ida Mpu Kamareka akan berada disebelah kiri keturunan Mpu Gnijaya dan saudara-saudaranya, termasuk keturunan Mpu Baradah dan Mpu Tantular (Danghyang Dwijendra). Bendesa Manik Mas memiliki hubungan yang sangat erat dengan Danghyang Dwijendra, beliau adalah keturunan Mpu Gnijaya sekaligus mertua dari Danghyang Nirartha/Dwijendra.
    Demikian semoga bermanfaat, jika ada yang ingin menambahkan saya persilahkan, tak ada gading yang tak retak, semoga semua menuju kesempurnaan
    Om Shanti

    [Reply]

  • Cempagawa

    trima kasih atas segala informasinya,….sudikah kita berpikir bersama…untuk memikirkan..selisih berapa tahun antara mpu semeru kebli dgn danghyang nirartha ke bali…? 3 abad…kira kira..?masih validkah cerita yg sudah terjadi ,ditulis 3 abad kemudian…?

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu, Suksma sampun mampir..
    untuk menjawab hal tersebut tentu diperlukan banyak penelitian. Namun jika validitas cerita tersebut dipertanyakan, itu akan kembali lagi kepada pemikiran orang yang membaca. Perlu dimengerti bahwa penulisan cerita/babad pada jaman tersebut memiliki banyak risiko secara politis terhadap kedudukan dan keselamatan suatu masyarakat/soroh. Seorang sekaliber Ida Nirartha bisa saja menggunakan beberapa perumpamaan dalam menulis seperti sebuah karya sastra yang perlu dikupas lebih jauh isi di dalamnya. Namun Saya yakin, secara intisari, kejadian tersebut memang benar-benar terjadi, karena banyak bukti yang mendukung hipotesa tersebut diantaranya, Gwa Song, Pura Jati, Keris Widhara Gumulung, dan dari segi niskala pun bisa dibuktikan.
    Demikian, jika ada yang salah mohon dikoreksi, tak ada gading yang tak retak, mari kita menuju kesempurnaan bersama-sama, Om Shanti

    [Reply]

  • putu arsana

    Om Swastiastu. Titiang saking karangasem desa adat asak,,,kewanten mangkin mekarya ring denpasar. meled manah titiang tatas antuk ceciren/ules pretisentana pasek kayu selem. santukan titiang metaken ring penglingsir tiang ring desa wenten ngenikayang keluargan titiang pretisentana pasek kayu selem wenten taler sane ngenikayang soroh wong baliaga. napi anggen ceciren mangda nenten titiang kesengguh tilas ring kawitan, suksma

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu, suksma sampun mampir ring blog puniki.
    Indik ceciren utawi ules pretisentana pasek kayuselem ten mrasidayang cingakin ring angga sarira. Yening Bapak Putu kari bimbang indik kawitan, indayang ngaturang pejati ring Sanggah Pamerajan nunas tuntunan Ida Btr Hyang Pramesti Guru mangdane nyingakin galang apadang rikala ngerereh kasujatian kawitan. Wusan punika maturan ring Kawitan Pasek Kayuselem ring Tampurhyang Batur (sebelah Pura Jati) utawi kawitan ring Gwasong. Dumogi wenten cihna Ida Betara Kawitan. Yening tan wenten cihna utawi kantun bimbang, Bapak dados ngrereh Jero Dasaran nunas bawos indik kawitan. Indayang nunas bawos ring kalih utawi tigang Jero Dasaran mangdane pastika. Dumogi Rahayu. Suksma. Om Shanti.

    [Reply]

  • I Made Winarya,ST

    Saudara admin tolong tyang kasi alamat yang bisa dikontak dari Pak Prof Kt Riana. Tyang keluarga Kayuselem dari Bajera, Tabanan. mau konsultasi sekitar Pasek Kayuselem, suksma

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu, suksma sampun mampir ring blog niki pak Made Winarya,ST. Indik alamat utawi kontak Bpk Prof I Kt Riana, indayang ke Universitas Udayana ring Gedung Program Pascasarjana Jl.Sudirman Denpasar, santukan beliau dados Guru Besar Magister Linguistik drika. Suksma,dumogi mapikenoh..
    Om Shanti

    [Reply]

  • dek war

    ampura jro admin tyang sentane pasek kayu selem buleleng metaken …. banyak yg bilang pasek gegel yg paling tinggi derajatnya dan tertua dari sekian pasek” yg laen pakah benar ? sedangkan pada saat ada upcara di mrajan alit tyang ida sri mpu saking songan darma wacana bilang pasek kayu selem .. adalah pasek tertua dan tertinggi yg mana benar
    ampura tyang anggen bhs campuran … belog tyang kelintang
    @rahayu

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu, semeton Dek War sampun singgah ring blog puniki.

    Tityang jawab nganggen bahasa Indonesia dumogi jelas. Tentang tinggi rendahnya derajat ataupun tua tidaknya sebuah soroh menurut saya sangatlah subyektif sifatnya. Dari sudut pandang mana orang menilai hal tersebut adalah sangat beragam. Pasek Gelgel atau Pasek yang tumbuh di daerah Gelgel Klungkung, adalah warih Ida Mpu Gnijaya, salah satu Saudara utawi Kakak dari Ida Mpu Semeru (Aji Ida Sang Mpu Dryakah utawi Mpu Kamareka – yang kemudian menurunkan Ida Mpu Gnijaya Mahireng kemudian menurunkan Sang Catur Sanak Bali-Kayuselem, Celagi, Tarunyan, Kawyan Balingkang). Beliau turun ke Bali setelah Mpu Semeru (Mpu Semeru turun ke Bali th 999, sedangkan Mpu Gnijaya th 1049). Sehingga wajar disebutkan bahwa Pasek yang ada di Bali pertama kali adalah Pasek Kayuselem. Pada Babad Kayuselem disebutkan bahwa sebutan atau gelar yang didapat dari Ida Mpu Semeru selama tiga keturunan jika taat menjalankan kewajiban adalah Satria Kabrahmanan. Sehingga dapat menggunakan gelar I Gusti Pasek atau setelah podgala dwijati menjadi Mpu. Setelah tiga turunan menjadi Aryya Kayu Ireng Kepasekan dan kemudian lambat laun menjadi Pasek Kayu Ireng atau Pasek Kayuselem. Mungkin Ida Sri Mpu mengambil sudut pandang ini untuk memberikan penilaian tentang tingginya derajat dan Pasek yang tertua di Bali.

    Untuk Semeton Pasek Gelgel, jika ada sumber-sumber yang menyebutkan bahwa beliau merupakan Pasek yang pertama, mungkin karena sudut pandang sumber tersebut adalah berangkat dari Kerajaan Gelgel yaitu setelah penguasaan Majapahit. Sehingga Pasek yang ada jika dilihat dari jaman tersebut adalah Pasek yang lahir dari 7 Pendeta (Sanak Sapta Resi) warih Ida Mpu Gnijaya, kakak Ida Mpu Semeru. Sedangkan tentang penilaian derajatnya tinggi, adalah mungkin karena dalam masa pemberontakan oleh Desa Desa Baliaga pada masa transisi pemerintahan Majapahit di Samprangan dan kemudian di Gelgel, tersebutlah Ida I Gusti Agung Pasek Gelgel menjadi pemimpin Bali sementara atas persetujuan Majapahit untuk memadamkan pemberontakan orang-orang Baliaga.

    Kata Pasek adalah sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang biasanya keturunan bagawanta yang memimpin suatu wilayah tertentu di Bali sebelum pemerintahan atau penaklukan Majapahit.

    Saran saya, janganlah hal tersebut dijadikan perdebatan yang alot, dan mari bersama-sama meningkatkan srada bakti kepada Ida Btr Kawitan masing-masing dan Ida Sanghyang Widhi Wasa, sehingga dengan demikian, keluhuran dan derajat yang diwariskan oleh Ida Btr Kawitan kepada kita semua dapat terjaga dan benar-benar bersinar cemerlang.

    Om Shanti

    [Reply]

  • De purna pntkn

    om swstiastu….
    ampura tyang metaken indik trah kayuselem sareng bali aga…ampura malih pisan ..tityang jagi nganggo bhsa indonesia….
    sprti yg sudah diuraikan diatas bahwa mpu kamereka menjadi bhagawanta masyarakat tampurhyang kunojaman bali aga.yg ingin tyang tanyakan…
    1.apakah keturunan masyarakat tampurhyang kuno masih ada ..?
    2.apakah keturunan masyarakat tampurhyang kuno termasuk trah kayu selem…?
    3.apa hubungan kayu selem dgn pura jati(siapa yg membangun..?) dan kenapa ditempat itu….?
    4.diwilayah tampurhyang manakah mpu kamereka dipudgala..0leh mpu semeru…?

    semoga jro admin ledang nyawis..tur tityang ngaturang suksma…Om canti,canti,canti

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu Semeton tityang Bpk De Purna, suksma sampun mampir ring blog puniki..

    Indik pitaken Bpk, prasidha antuk tityang nyawis medasar antuk Babad kirang langkung sekadi puniki :

    1.Keturunan masyarakat Tampurhyang atau penduduk yang bertempat tinggal di lereng gunung batur atau dahulu disebut Sinarata disebut juga Tampurhyang, sampai saat ini masih ada. Mereka yang dahulu tinggal di bawah telah berpindah ke daratan di atas yang disebut dengan Kalanganyar sejak Gunung Batur meletus dan daerah sekitar Tampurhyang tertutup lahar. Tentu saja mereka telah menyebar pula ke daerah sekitarnya seperti Balingkang, Sukawana dll. Sebagian juga masih ada disekitar danau Batur tepatnya di daerah Trunyan.

    2.Masyarakat Tampurhyang Kuno terdiri dari Orang-Orang Bali Mula dan Sang Catur Sanak.

    3.Hubungan Pura Jati dengan Kayuselem menurut Babad adalah bahwa pesan dari Ida Mpu Kamareka setelah beliau moksa kepada Putra Putra beliau adalah untuk membangun Pura Jati, sebagai sah nya kahyangan beliau menjadi sungsungan orang Bali.

    4.Mengenai wilayah tempat dimana Mpu Kamareka di pudgala, terus terang saya tidak mengetahuinya. Namun, sebagai perkiraan, bahwa kejadian tersebut terjadi saat Mpu Semeru pertama kali bertemu dengan Sang Kayureka setelah beliau menyucikan diri di tepi danau Batur (Toya Bungkah).

    Sehubungan dengan hal ini, dapat Saya sampaikan pandangan pribadi saya, bahwa dahulu Pura Kayuselem hanya ada di Gwa Song, seiring berjalannya waktu beberapa komponen keluarga Kayuselem di Bali berkeinginan membangun Pura Kayuselem di Tampurhyang yang bersebelahan dengan Pura Jati. Entah karena petunjuk niskala atau apa, yang pasti kami generasi berikutnya menjadi lebih mengetahui hubungan Kayuselem dengan Pura Jati, dan Saya merasa bahwa beliau Sang Mpu Kamareka bertemu Ida Mpu Semeru di sekitar tempat ini dan kemudian beryoga samadi di Gwa Song. Sehingga, telah diatur oleh Beliau bahwa kita pratisentana agar mengetahuinya. Namun agar hal ini tidak dianggap memecah belah persaudaraan Kayuselem dan lainnya, yang ada adalah kita tetap bersaudara. Bahkan kini telah dibangun Pura Pusat Kawitan Sang Catur Sanak lan Bali Mula di Tampurhyang.

    Om Shanti

    [Reply]

  • De purna pntkn

    om swastiastu…majeng jro admin sane sampun nyawis pitaken tityang, tityang matur suksma. tur tityang malih jagi metaken ..

    Sesuai pesan ida mpu kamereka,setelah beliau meninggal/moksha kpd putra beliau yaitu Mpu gni jaya mahireng utk membangun” PURA JATI “sbg sahnya KAHYANGAN beliau menjadi sungsungan orang bali.
    1.a.Apakah uraian diatas berarti bahwa pura jati adalah kahyangan untuk memuja tuhan dan roh suci dari mpu kamereka bagi keturunannya(sang catur sanak KS)dan orang-orang bali aga tampurhyang secara khusus serta orang bali pd umumnya…?
    b.Kira-kira ” APA PENYEBABNYA..” sehingga mpu kamereka berpesan kpd putranya(mpu gni jaya mahireng)untuk membangun pura jati ditempat yg sekarang….kenapa tidak diseputaran gwa song(pasraman & tempat pertapa mpu kamereka )…?
    c.Kira-kira apa makna terdalam/khusus dari dibangunnya pura jati….bagi keturunannya dan orang bali aga tampurhyang…?
    d.Kira-kira ada rahasia/makna apa…dibalik tempat berdirinya pura jati dengan mpu kamereka…?

    Menurut pandangan saya pribadi juga bahwa pura kayu selem pertama hanya ada di gwa song.pura kayu selem ini adalah berasal dari sanggah kemulan mpu kamereka dan kemudian menjadi merajan – kawitan bagi keturunannya dgn menyandang sebutan sang catur sanak kayu selem
    1.apakah pura ini bisa menjadi pura kawitan orang orang bali aga tampurhyang(diluar keturunan mpu kamereka)…?

    Mengenai “PURA PUSAT KAWITAN SANG CATUR SANAK LAN BALI MULA TAMPURHYANG
    1.sang catur sanak sudah jelas betara kawitannya,yaitu mpu kamereka,kemudian orang orang bali aga tampurhyang kkarena tidak satu purusa ,betara kawitannya siapa…?
    2.Apakah secara otomatis orang bali aga tampurhyang diluar keturunan mpu kamereka,menjadi warga/soroh/klan pasek kayu selem….?
    3.Dimana letak pura pusat kawitan sang catur sanak lan bali mula…?

    atas perhatianya tityang ngaturang suksmaning manah

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu,suksma Bpk De Purna…
    Indik pitaken Bpk, prasidha antuk tityang nyawis kirang langkung sekadi puniki :
    1.a. Benar yang Bpk De Purna simpulkan. Berdasarkan isi Babad, disebutkan bahwa Mpu Gnijaya Mahireng beserta Putra-Putra Mpu Kamareka yang lain beserta keluarganya, setelah membangun Pura Kayuselem, kemudian membangun Pura Jati, sebagai kesujatian atau untuk kebulatan / kemantapan hati bagi para sentana Ida Bethara bahwa Ida Mpu telah moksah dan senantiasa memberikan waranugrahanya kepada kita semua. Kemudian, Pura Jati tidak hanya disungsung oleh keluarga kayuselem, namun oleh orang Bali seluruhnya, sehingga wajar jika disebutkan bahwa, sebagai sahnya Kahyangan beliau.
    b. Untuk hal ini jelas tidak tersurat dalam Babad. Hanya saja, menurut tyang, bahwa penciptaan atau lahirnya Ida Mpu Kamareka (dwijati) setelah ditapak langsung oleh Ida Mpu Semeru di tempat ini, mungkin saja karena tempat ini begitu dekat dengan Toya Bungkah, tempat Ida Mpu Semeru menyucikan diri. Dan ada hubungannya dengan mata air suci yang ada di Danau Batur yang sampai sekarang masih ada.
    c. Bagi Keturunan Mpu Kamareka (Sang Catur Sanak) jelas merupakan kahyangan / Pura wajib. Yaitu sebagai sebuah kepastian dan keyakinan dan pemujaan terhadap Ida Betara Kawitan, hal mana pembangunan Pura ini merupakan mandat beliau, tentu saja termasuk memelihara dan menyungsungnya. Bagi masyarakat Bali Mula dan Bali pada umumnya telah disebutkan bahwa Pura Jati adalah tempat memohon Tirtha Kamandalu untuk Upacara Dewa Yadnya (mamahayu Bhatara).
    d. Saya rasa kembali ke jawaban nomor 1.b. Dan jaman dahulu, daerah Tampurhyang adalah pusat peradaban awal di Bangli dan bahkan Bali. Sehingga sangat mungkin Warga Bali Mula berpusat di sekitar Pura Jati sekarang sebelum akhirnya tempat itu tertimbun letusan Gunung Batur.
    1. Menurut Saya tidak bisa, karena Sanggah Pamerajan ini khusus untuk warga Kayuselem saja. Namun jika Warga Bali Mula tetap ingin tangkil, itu menjadi sah-sah saja. Karena Beliau memang menjadi junjungan orang Bali Mula.

    Tentang Pusat Kawitan Sang Catur Sanak lan Bali Mula
    1.Sang Catur Sanak dan Bali Mula tidak dapat dipisahkan, karena Mpu Kamareka adalah lahir menjadi junjungan warga Bali Mula. Menurut Saya, karena Babad bernada kiasan, sehingga yang dimaksud Sang Rare itu adalah berasal dari warga Bali Mula. Yang kemudian dilihat berpotensi dan memiliki kepribadian dan spiritual yang cemerlang oleh Ida Mpu Semeru sehingga dipodgala dijadikan pimpinan atau penuntun warga Bali Mula saat itu.

    Ingat jaman turunnya Mpu Semeru ke Bali adalah jaman Raja Darma Udayana Warmadewa, yang pada waktu itu di Bali paham / sekte agama masih banyak, sehingga Raja mengundang pendeta dari Kediri/Jawa untuk memberikan tuntunan. Mpu Semeru adalah pendeta Siwa pertama yang datang ke Bali diantara Panca Tirtha (Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah).

    2.Warga Bali Mula tetap menjadi warga Bali Mula, namun sekarang telah dihimpun menjadi satu kesatuan antara keturunan Sang Catur Sanak dan Warga Bali Mula.

    3.Letak Pura Pusat Kawitan Sang Catur Sanak lan Bali Mula ada di dekat Toya Bungkah.

    Om Shanti

    [Reply]

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons

Mencari sesuatu?

Gunakan form di bawah untuk menjelajahi situs:

Tetap tidak ketemu? Tinggalkan komentar agar kami bisa mencarikan untuk Anda!

Temans

Website dan Blog kawan