Kayuselem

Catur Warna dan Kasta di Hindu Bali

by on Nov.25, 2011, under Buah Pikiran

Walaupun telah jelas-jelas tersurat dan tersirat dalam kitab-kitab suci umat Hindu khususnya Rg Weda, bahwa tidak ada catur kasta, yang ada adalah catur warna. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali masih erat memegang teguh kasta. Untuk lebih jelas mengenai apa itu kasta dan apa itu warna, kutipan dari Bhagawan Dwija di bawah mungkin dapat memperjelasnya secara arif :

1. Catur Warna adalah empat “warna” atau profesi manusia dalam kehidupan, yaitu:

  1. Warna (profesi) Brahmana bagi para Rohaniawan, Guru, Dosen, Yudikatif, Paramedik, Seniman, dll.
  2. Warna (profesi) Kesatrya bagi pemimpin/ pegawai Pemerintahan/ Eksekutif/ Legislatif , Polisi, TNI, dll.
  3. Warna (profesi) Wesya bagi usahawan, industriawan, pedagang jasa, dll.
  4. Warna (profesi) Sudra bagi pekerja kasar, petani, peternak, nelayan, dll.

2. Brahmana lahir dari kepala, maksudnya dalam menjalankan profesinya mereka banyak menggunakan daya pikir. Kesatrya lahir dari tangan, maksudnya dalam menjalankan profesinya mereka banyak menggunakan ketrampilan tangan.

Wesya lahir dari perut, maksudnya profesi mereka banyak berhubungan dengan pemenuhan kecukupan sandang – pangan – papan. Sudra lahir dari kaki maksudnya profesi mereka membutuhkan kekuatan jasmani.

Keempat warna itu sifatnya universal. Dalam lingkaran jalinan kehidupan, mereka saling mengisi dan mencukupi kebutuhan bersama. Filosofi Warna seperti di atas yang ada dalam kitab-kitab suci Hindu, tidak ada hubungannya dengan “kasta”.

Kasta berasal dari bahasa Portugis “Caste” adalah struktur sosial yang berjenjang dalam tatanan feodalisme dimana untuk kepentingan status-quo telah menyimpangkan filosofi Warna.

Sejalan dengan kemajuan zaman, system Kasta makin memudar, karena tidak sesuai dengan azas-azas kemanusiaan.

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari kutipan di atas adalah bahwa dalam sistem kemasyarakatan sistem kasta yang salah lama kelamaan akan tergerus oleh jaman, hal mana, sistem feodal telah berlalu, dan modernisasi terjadi dalam setiap aspek kehidupan masyarakat. Sehingga, lambat laun, pengertian yang pas mengenai hal ini akan kembali pada pengertian sesungguhnya sesuai penafsiran Guru-Guru Suci tentang Weda, yaitu kembali kepada Catur Warna. Bahwa setiap bakat lahir, kemampuan dan profesi seseorang merupakan warna mereka, jadi tidak ada istilah kasta lagi. Mengenai Soroh maupun Clan (Keluarga) agar tetap dijaga sebagai penghormatan kepada Leluhur yang merupakan salah satu srada umat Hindu khususnya di Bali. Bakat dan profesi yang melekat pada leluhur pada jamannya tidak bisa dipungkiri bisa saja timbul kembali pada keturunannya kini, dan sebaliknya juga bisa menyeberang ke bakat lainnya. Sehingga, setiap manusia didudukkan sama rendah dan dihargai sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pada bidangnya masing-masing, walaupun tentu tetap dibayang-bayangi bakat dan profesi orang tuanya.

 

 

:,

5 Comments for this entry

  • putu aris widyastana

    Om Swastyastu,
    Kasta masih eksis di Bali. Bahkan mereka semakn menunjukkan eksistensinya dengan dalih melestarikan adat dan budaya.
    Saya punya kekhawatiran terhadap kaum wanita berkasta. Mereka dituntut untuk punya suami berkasta pula. Demi terpenuhinya tuntutan ini saya khawatir mereka rela melakukan apa saja, bahkan memerosotkan moralnya, demi “mengikat” lelaki berkasta agar mau jadi suaminya. Semoga kekhawatiran saya salah.
    Om Shantih, Shantih, Shantih, Om
    paw

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu, suksma sudah mampir.
    Fenomena ini memang masih terjadi di masyarakat kita. Dan jika mereka diambil oleh yang calon suami yang dianggap memiliki kasta lebih rendah, haruslah menempuh jalan kawin lari (atau bisa juga melaib galang). Dan dalam upacaranya pun masih melalui proses patiwangi walaupun tidak semuanya berjalan demikian. Padahal DPD, DPRD,
    Gubernur telah mengeluarkan SK tahun 1951 yang menyatakan upacara patiwangi tidak perlu.
    Om Shanti

    [Reply]

  • Mangra

    omswastyastu..
    Mohon maap sebelumnya, apa sebab dan dasar harus dihilangkannya kasta di bali yg merupakan salah satu ciri khas adat bali?
    Dan dengan Dihilangkannya kasta di bali, apa yg dapat dihasilkan? Apakah kita lebih bahagia dan hidup lebih maju..
    Krn mnrt saya, di bali seseorg berksta pun biasa saja berbaur sama dengan yg lainnya tanpa ada perbedaan, saling menghormati dan sama2 sadar diri tanpa ada paksaan dan penekanan.
    Terkecuali..
    batasan sulinggih yg mewajibkan keturunan brahmana utk bs menjadi seorang pedande atau perande yg bisa muput bbrp upacara tertentu.. Apakah ini permasalahannya?

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu, trimakasih sudah mampir di blog sederhana ini.
    Kasta itu hanya ada di dalam pikiran manusia. Ia lahir dari Warna, yaitu taksu seseorang baik dari pembawaan maupun setelah mengasah bakatnya. Warna juga bisa disamakan dengan keahlian. Keahlian seseorang yang statusnya dipertahankan secara turun temurunlah yang menjadi Kasta. Tidak ada kasta lagi di Bali, hanya saja masyarakat masih memegang teguh kebiasaan-kebiasaan dari leluhurnya yang memang didasari oleh rasa hormat yang mendalam. Kalau masalah pergaulan, kembali lagi ke pribadi masing-masing. Untuk Sulinggih, dari asal keturunan apapun boleh menjadi Sulinggih, asal memenuhi syarat.
    Suksma.

    [Reply]

  • Ari

    Banyak sekali orang berkasta tinggi (Brahmana, Ksatrya, Wesya) merasa bangga dengan kastanya tersebut dan sempat juga saya melihat mereka meremehkan orang dari kaum Sudra dan harus diperlakukan khusus (baik,sopan,halus), sementara ia tidak bisa menghormati orang lain.Kalau menurut saya, Catur Wangsa hanyalah formalitas di jaman sekarang ini, yang dinilai memiliki martabat tinggi adalah bagaimana kelakuan (karma) mereka di masyarakat, bisa bertindak berdasarkan pada Tri Hita Karana, Tat Twam Asi. Itu hanyalah pendapat saya, bila ada yang tidak berkenan, silahkan.

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu Ari, trimakasih telah mampir, saya sependapat dengan Ari, bahwasanya kepribadian dan karakter seseoranglah yang menentukan kedudukannya dalam masyarakat..

    [Reply]

  • Lilis Karlina

    halooo..numpang copy ya buat tugas kuliah .makasi infonya

    [Reply]

  • made gelgel

    Om swastyastu, pendapat saya mengenai kasta ini entah mengapa sekarang di bali lebih bisa menerima kenyataan hamil di luar nikah daripada menikah lintas kasta tapi dengan cara yang benar. Padahal tentu saja hamil di luar nikah itu sangat memalukan keluarga dan kenyataan banyak orang berkasta melakukan hal ini. Yang saya ingin tau mana yang lebih memalukan diantara dua hal tsb. Apakah itu murni menjalankan kasta atau gengsi semata. Sudah seharusnya pantas atau tidaknya seorang laki2 yang ingin menikahi perempuan harus dilihat dari kematangan laki2 tersebut menafkahi calon istrinya, bukan dari kasta saja, suksma

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu..
    Terima kasih pak made gelgel sampun mampir..

    tentang hamil di luar nikah, memang banyak terjadi belakangan ini dan masyarakat sepertinya maklum dengan keadaan tersebut. hal ini mungkin disebabkan begitu gencar arus informasi dan pengaruh globalisasi di bali. sehingga hal seperti itu sudah biasa terjadi, tentu karena pergaulan muda mudi yang sedikit bebas.

    tentang nikah beda kasta, pada beberapa kelompok masyarakat tertentu masih dianggap sebagai sebuah aib keluarga, namun pada kelompok lain sudah biasa terjadi. hal ini terjadi menurut saya dipengaruhi beberapa faktor, yakni diantaranya tingkat pendidikan keluarga dan wawasan yang dimiliki oleh orang tua si anak yang menikah, beserta keluarga besarnya. Kecenderungan yang terjadi, bila wawasan mereka telah terbuka, akan maklum dan menganggap perkawinan yang baik bukanlah urusan kasta, melainkan membina keluarga dan demi kebaikan putra putri serta cucu mereka (apalagi sudah hamil duluan).

    Mengenai pilihan mana yang lebih memalukan, itu sifatnya pribadi. Hendaknya semua menyadari bahwa perkawinan hendaknya dilakukan dengan mematuhi norma serta nilai yang berlaku di masyarakat. Dan kasta sudah tidak ada secara hukum di bali, hanya saja masih sering dijadikan bahan pertimbangan.

    Om Shanti

    [Reply]

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons

Mencari sesuatu?

Gunakan form di bawah untuk menjelajahi situs:

Tetap tidak ketemu? Tinggalkan komentar agar kami bisa mencarikan untuk Anda!

Temans

Website dan Blog kawan

Arsip

Semua posting, secara kronologis..