Kayuselem

Tirtha Selaka di Pura Kereban Langit Sading

by on Aug.04, 2012, under Pura

Sebenarnya keinginan untuk tangkil sembahyang di Pura Kereban Langit Br. Pekandelan Desa Sading Mengwi Kab. Badung telah lama ada dalam hati. Bahkan, telah juga pernah disampaikan kepada teman sejawat yang senang lingkang-lingkung bersama. Namun apa mau dikata, keinginan tinggal keinginan yang belum juga kesampaian.

Hingga pada suatu ketika pada purnamaning sasih karo tanggal 2 Agustus 2012 yang lalu, Saya bersama teman-teman sejawat prasidha pedek tangkil ke Pura Kereban Langit ring Br. Pekandelan Sading.

Lokasi Pura Kereban Langit cukup mudah dicapai, yakni bisa dari arah Puspem Badung, maupun dari pertigaan jalan raya Anggungan-Darmasaba Kab.Badung. Jika dari arah Puspem Badung di Sempidi,  di pertigaan Patung Rama dan Hanuman kita bisa menyusuri jalan ke arah timur, menuju Sading, sampai di Br. Pekandelan, ada perempatan Jalan Gede Desa belok kiri (ke arah barat) terus sampai mentok di Jaba Pura. Akses jalan menuju Pura cukup baik, yaitu aspal walaupun lumayan sempit yaitu cukup satu kendaraan roda empat saja, sedangkan untuk papasan belum bisa.

Dari Areal parkir, terdapat undak-undak turun menuju Pura, dan menuju Pancoran di sebelah selatan Pura yang jalan masuknya dari sebelah barat tembok Pura yang berbatasan juga dengan Tukad Ulangun.

Karena baru pertama kali pedek tangkil, kami memutuskan untuk menghubungi Jero Mangku di Pura tersebut terlebih dahulu, yang kebetulan telah menyediakan nomor teleponnya untuk dihubungi di pintu masuk Pura sebelah utara. Setelah dihubungi, beliau segera akan datang dan dihimbau untuk melakukan penglukatan terlebih dahulu di pancoran sebelah selatan Pura.

Pancoran ini berupa dinding batu alam dengan kepala pancoran berupa mulut naga berjumlah lima yang mengeluarkan tirtha yang jernih dan menyegarkan. Atas petunjuk penjaga pancorannya, kami melakukan penglukatan/melukat dengan terlebih dahulu menghaturkan canang sari ke masing-masing sumber pancoran. Perasaan segar dan hening sangat terasa selesai melukat.

Setelah melukat, kami diantar ke jeroan oleh Jro Mangku Pura Kereban Langit. Di areal Pura, terdapat semacam pintu yang menghadap ke barat, ketika pintu tersebut dibuka, terpampanglah pemandangan sebuah goa dengan celah kosong di tengah-tengahnya sehingga kita bisa melihat ke atas ke arah langit. Mungkin nama dari Pura ini berasal dari kondisi di dalam goa ini, yaitu beratapkan langit, Kereban Langit.

Berdasarkan informasi dari Jero Mangku, Goa  ini telah lama ada sejak zaman pemerintahan Raja Bali Sri Udayana. Lebih lengkapnya sejarah Pura ini terdapat dalam tulisan berikut :

Pura Kereban Langit mulai didirikan belumlah terungkap secara jelas. Namun dapat dipastikan goa tempat pura tersebut sudah ditemukan pada abad ke-11. Hal ini dibuktikan/dijelaskan seperti yang termuat dalam Prasasti Sading yang berangka tahun Isaka 923 (1001 Masehi), dimana nama goa ini sudah disebutkan. Hanya saja, saat itu yang merupakan masa pemerintahan Raja Sri Udayana, Sading masih bernama Desa Bantiran. Baru pada tahun 1076 Masehi, Desa Bantiran berubah nama menjadi Desa Sading. Dalam etimologi Bali, keberadaan Goa Kereban Langit juga muncul.

Diceritakan, sebelum lahirnya raja kembat Sri Masula-Sri Masuli, ayahnya memohon kehadapan Ida Bhatara di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) agar permaisurinya segera dapat melahirkan/ mempunyai anak. Bhatara di Gunung Tohlangkir memberi petunjuk agar sang raja mencari Tirtha Selaka, sehingga keinginannnya dapat tercapai. , Oleh karena itu, diutuslah seorang brahmana menelusuri seluruh jagat Bali untuk mencari Tirtha Selaka tersebut. Saat sampai di Desa Sading, sang brahmana berhenti dekat Goa Kereban Langit. Di dalam goa terdapatlah seorang pertapa. Sang Brahmana kemudian menemuinya dan menjelaskan maksudnya untuk mencari Tirtha Selaka. Sang pertapa kemudian menunjukkan sebuah mata air yang terdapat di dalam goa. Tak dinyana air itulah yang disebut dengan Tirtha Selaka.

Air suci itupun kemudian dihaturkan kepada permaisuri raja. Memang benar, sang permaisuri kemudian akhirnya bisa melahirkan. Anak yang dilahirkan kembar buncing yang kemudian diberi nama Sri Masula-Sri Masuli. Struktur Pura Struktur Pura Kereban Langit sangatlah sederhana. Di jeroan terdapat padma pelinggih Ratu Gede Lingsir, pelinggih Ratu Made dan pelinggih Ratu Ayu berada di sebelah kanan. Di sebelah kanan padma, di atas goa tempat Tirtha Selaka, terdapat relief Bima. Sementara di depan padma terdapat beberapa buah patung penjaga dan patung terakota. Di bagian madya mandala terdapat satu buah padma. Di jaba sisi yang dekat dengan sungai terdapat pelinggih penyawangan Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped serta Ida Bhatara Batu Bolong. Di sungai sisi barat pura dulu sempat ada batu besar dengan lobang seukuran anak kecil. Namun, karena ulah manusia, batu tersebut akhirnya tenggelam.

Yang unik, pangemog Pura Kereban Langit ini hanyalah 5 kepala keluarga (kini sudah berkembang menjadi delapan). Pada jaman kerajaan Mengwi dulu, pengawasan Pura Kereban Langit berada di tangan Puri Mengwi. Ketika terjadi pengembangan keluarga raja ke Sading, pengawasan dilimpahkan ke Puri Sading. Hingga kini jika pujawali di Pura Kereban Langit, keluarga Puri Mengwi dan Puri Sading selalu hadir. Pujawali dilaksanakan setiap Buda Wage Ukir. Meskipun hanya diemong lima kepala keluarga, Pura Kereban Langit kerap didatangi pemedek yang hendak tangkil. Tidak saja saat pujawali, juga hari-hari biasa. Ada yang datang karena mendapat pewisik dan sejenisnya. Yang paling ramai saat Hari Raya Saraswati atau Siwaratri atau Rahinan Purnama untuk melukat dan sembahyang.

:, , ,

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons

Mencari sesuatu?

Gunakan form di bawah untuk menjelajahi situs:

Tetap tidak ketemu? Tinggalkan komentar agar kami bisa mencarikan untuk Anda!

Temans

Website dan Blog kawan

Arsip

Semua posting, secara kronologis..