Kayuselem

Sanggah Pamerajan

by on Jun.15, 2013, under Kitab Suci

sanggah1      sanggah2

Jika kita amati Sanggah Pamerajan yang ada khususnya di Pulau Bali, kita akan menemukan susunan pelinggih yang berbeda-beda. Hal ini tentu tidak terjadi secara kebetulan atau merupakan suatu kesalahan. Semuanya tentu berdasar, dan seiring waktu hal ini wajib kita pahami sebagai generasi penerus dan dilanjutkan oleh anak dan cucu kita. Pengertian ini penting untuk diketahui agar terjadi pemahaman akan perbedaan yang ada sehingga Agama Hindu tidak dipecahbelah oleh ketidaktahuan kita.

Berikut  penjelasan mengenai pelinggih yang ada di Sanggah Pamerajan, serta sejarahnya mengapa Sanggah Pamerajan kita berbeda-beda. Banyak Saudara kita yang tidak mau ikut bersembahyang di Sanggah Pamerajan karena konsep yang ada dalam pikiran mereka berbeda tentang Sanggah Pamerajan. “Apakah saya benar menyembah leluhur mereka?” atau “Tidak ada Padmasana di Sanggahmu, keluarga saya tidak boleh sembahyang jika tidak ada Padmasana” dan lain sebagainya.


1. Sanggah Pamerajan berasal dari kata: Sanggah, artinya Sanggar = tempat suci; Pamerajan berasal dari Praja = keluarga. Jadi Sanggah Pamerajan, artinya = tempat suci bagi suatu keluarga tertentu.

Untuk singkatnya orang menyebut secara pendek: Sanggah atau Merajan. Tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, sedangkan Merajan untuk Triwangsa. Yang satu ini kekeliruan di masyarakat sejak lama, perlu diluruskan.

2. Sanggah Pamerajan, ada tiga versi:

  1. Yang dibangun mengikuti konsep Mpu Kuturan (Trimurti). Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Kemulan (Rong Tiga, Dua, Satu), tidak mempunyai pelinggih Padmasana/ Padmasari.
  2. Yang dibangun mengikuti konsep Danghyang Nirarta (Tripurusha). Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Padmasana/ Padmasari, sedangkan pelinggih Kemulan tidak berada di Utama Mandala.
  3. Kombinasi keduanya. Biasanya dibangun setelah abad ke-14, maka pelinggih Padmasana/ Padmasari tetap di ‘hulu’, namun di sebelahnya ada pelinggih Kemulan.

Trimurti adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Ang – Ung – Mang (AUM = OM) atau Brahma, Wisnu, Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi horizontal, di mana Brahma di arah Daksina, Wisnu di Uttara, dan Siwa di Madya.

Tripurusha adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi vertikal, di mana Parama Siwa yang tertinggi kemudian karena terpengaruh Maya menjadilah Sada Siwa, dan Siwa.

Yang mana yang baik/ tepat ?

1. Menurut keyakinan anda masing-masing.

2. Namun ada acuan, bahwa konsep Mpu Kuturan disebarkan di Bali pada abad ke-11. Konsep Danghyang Nirarta dikembangkan di Bali sejak abad ke-14, berdasarkan wahyu yang diterima beliau di Purancak/ Jembrana.

3. Jadi menurut pendapat saya, memakai kedua konsep, atau kombinasi a dan b adalah yang tepat karena kita menghormati kedua-duanya, dan kedua-duanya itu benar, mengingat Sanghyang Widhi ada di mana-mana, baik dalam kedudukan horizontal maupun dalam kedudukan vertikal.

Namun demikian tidaklah berarti Sanggah Pamerajan yang sudah kita warisi berabad-abad lalu dibongkar, karena dalam setiap upacara, toh para Sulinggih sudah ‘ngastiti’ Bhatara Siwa Raditya (Tripurusha) dan juga Bhatara Hyang Guru (Trimurti).

Bhagawan Dwija


1 Comment for this entry

  • De purna pntkn

    Om swastiastu ratu bhagawan.saya ingin menanyakan beberapa hal :
    Dalam beberapa buku yg saya sempat baca bahwa setelah paruman agung samuan tiga abad 11 ,mpu kuturan menetapkan paham siwa-sidantha yg ditandai dgn bersatunya seluruh sekte sekte yg ada di bali pada masa tsb.
    hal ini dikuatkan dengan pendirian pura pura kahyangan jagat oleh mpu kuturan.
    Disetiap desa pakraman pun dibangun pura bale agung,puseh lan pura dalem prajapati serta dimasing masing keluarga pun dibangun pura keluarga
    pertanyaan saya
    1.apakah pura keluarga pd jaman ini diperuntukan untuk memuja Bhatara hyang guru(Tri murthi)atau untuk memuja Bhatara kawitan (roh suci leluhur/pengelingsir )dari masing2 keluarga…?
    2.apakah pada masa ini ditetapkan juga adanya soroh/klan di masyarakat bali…?

    Kemudian pada jaman Danghyang dwijendra(abad 14)adalah jaman keemasan dari era bali majapahit.hal ini juga ditandai dgn pendirian banyak pura oleh D dwi jwndra dan banyak juga ditulis silsilah dari keluarga/soroh dibali dalam bentuk babad dan disahkan dgn labelisasi dari IDA DALEM GELGEL/SAMPRANGAN.
    pertanyaan saya :
    1.Adakah ketentuan pasti ” BENTUK “pelinggih dari masing masing soroh/klan untuk memuja Bhatara kawitannya/Roh suci leluhurnya…..?
    2.Adakah ketentuan pasti dari bentuk pelinggih untuk memuja Bhatara kawitan atau roh suci bhatara hyang kamereka bagi soroh/klan sang catur sanak kayu selem …?

    terima kasih..Om santi,santi,santi om

    [Reply]

    admin Reply:

    Om Swastyastu,

    Mohon pertanyaan untuk Ida Ratu Bhagawan disampaikan melalui web beliau di http://stitidharma.org/

    Suksma.

    [Reply]

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons

Mencari sesuatu?

Gunakan form di bawah untuk menjelajahi situs:

Tetap tidak ketemu? Tinggalkan komentar agar kami bisa mencarikan untuk Anda!

Temans

Website dan Blog kawan

Arsip

Semua posting, secara kronologis..