Kayuselem

Archive for June, 2011

Renungan

by on Jun.19, 2011, under Buah Pikiran

Renungan dari Bhagawan Dwija

1. Kita wajib bersyukur ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa karena atas karunia-Nya Atman telah ber-reinkarnasi ke dalam tubuh manusia, yang mempunyai: sabda, bayu, idep. Dibandingkan binatang yang mempunyai sabda dan bayu, apalagi tetumbuhan yang hanya mempunyai bayu saja.

2. Pemangku wajib bersyukur karena telah ditakdirkan menjadi manusia suci. Seorang Pemangku tidak begitu saja bisa menjadi Pemangku. Menurut Lontar Yama Purana Tattwa, hidup dan kehidupan manusia sudah direncanakan jauh sebelum ber-reinkarnasi. Oleh karena itu janganlah menganggap bahwa menjadi Pemangku itu suatu “kebetulan”

3. Menjadi Pemangku adalah suatu kebanggaan, karena: Menjadi tapakan Widhi, disayang oleh Ida Sanghyang Widhi/ Dewata/ Bethara. Mempunyai kesempatan yang luas untuk mensucikan diri di jalan Dharma agar mencapai “moksartam jagathita” Mempunyai tugas suci mengabdi kepada masyarakat, sebagai tabungan membentuk karma wasana yang baik.

4. Oleh karena menjadi kesayangan Ida Sanghyang Widhi/ Dewata/ Bethara, pertahankanlah agar tugas suci ini dapat terlaksana dengan baik, menjadi Pemangku yang profesional, sehingga mengharumkan linggih Ida Bethara sesuwunan. Kehidupan Pemangku adalah hidup suci dan berdisiplin.

(continue reading…)

2 Comments :, , more...

Rerahinan Umat Hindu Bali di bulan Juni 2011

by on Jun.10, 2011, under Kitab Suci

Pada bulan Juni 2011  ini, terdapat lumayan banyak rerahinan umat Hindu Bali, walaupun belum menyajikan tuntas Hari Raya Galungan, namun rentetan hari besar dan suci bagi umat Hindu tersebut sudah dimulai pada akhir bulan ini yaitu diantaranya hari Sugihan. Secara lengkap rahinan di bulan Juni 2011 adalah sebagai berikut :

1 Juni 2011. Buda Keliwon Gumbreg.

1 Juni 2011. Tilem.

11 Juni 2011. Tumpek Uduh/Pengatag/Pengarah/Bubuh. Hari ini merupakan peringatan “Kemakmuran’

13 Juni 2011. Soma Paing Warigadean. Memuja Ida Sang Hyang Widi/Bhatara Brahma dan menghaturkan sesaji di merajan/sanggah kemulan.

15 Juni 2011. Buda Wage Warigadean.

15 Juni 2011. Purnama.

16 Juni 2011. Kajeng Keliwon Uwudan.

17 Juni 2011. Hari Bhatara Sri.

21 Juni 2011. Anggar Kasih Julungwangi. Hari ini juga disebut Anggar Kasih Penguduhan yang bertujuan untuk memulai mengadakan pembersihan pada tiap-tiap Parhyangan dalam rangka menyambut hari raya Galungan.

30 Juni 2011. Sugihan Jawa. Pada hari ini juga disebut Parerebon, turunlah semua Bhatara ke dunia. Mengaturkan pengeresikan dab canang raka di merajan/paibon.

30 Juni 2011. Tilem.

Ingat rahinan atau hari baik, ingat sembahyang…

Leave a Comment :, , , more...

Pura Ponjok Batu dalam perjalanan DangHyang Nirartha

by on Jun.08, 2011, under Pura

Dalam bahasa Bali “Ponjok Batu” berarti Tanjung Batu. Lingkungan Pura ini merupakan lingkungan Pura tempat pemujaan/persembahyangan umum untuk mohon keselamatan. Dari depan lingkungan pura yang dibatasi jalan raya meuju Amlapura terlihat pemandangan Laut Jawa yang terbentang luas yang dapat menimbulkan ketenangan jiwa dan menumbuhkan inspirasi bagi pengunjungnya. Laut yang tenang yang ditumbuhi beberapa pohon tua di sekitar bukit menambah keindahan lokasi dan penduduk setempat memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari.

Lokasi Lingkungan Pura Ponjok Batu ini terletak lebih kurang 24 km di sebelah Timur Singaraja, terletak di pantai Utara pulau Bali, termasuk wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.

Karena merupakan tempat persembahyangan umum, maka setiap odalan lingkungan pura ini banyak dikunjungi oleh pengunjung dari luar daerah Buleleng dan khususnya masyarakat setempat. Disamping karena keindahan alam, arsitektur lingkungan pura juga mencerminkan gaya khas yaitu seluruh bangunan terbuat dari susuban batu-batu alam yang terdapat di sekitar lokasi sangat menarik wisatawan. Sampai saat ini cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah ini, terutama para wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke obyek-obyek wisata yang ada di sebelah Timur Kabupaten Buleleng. Seperti Desa Sembiran,tarian sakral wayang wong dan dalam perjalanan menuju Karangasem.

Asal muasal berdirinya Pura atau Kahyangan ini erat hubungannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha yang juga dikenal dengan sebutan Danghyang Dwijendra, di dalam Dwijendra Tattwa antara lain dikisahkan sebagai berikut : Pada zaman pemerintahan Dalem Gelgel Sri Waturenggong, sekitar tahun Isaka 1411 atau tahun 1489 M datanglah di Bali Danghyang Nirartha yang kemudian dikenal dengan sebutan Danghyang Dwijendra.

Setelah beberapa lama beliau tinggal di Gelgel, maka pada suatu hari Danghyang Nirartha ingin meninjau daerah Bali di sebelah Utara Gunung (Den Bukit) yaitu Buleleng, yang seterusnya kalau tidak ada aral melintang beliau berniat akan terus menyeberang ke Sasak (Lombok). Sesudah beliau berjalan beberapa hari lamanya kemudian Danghyang Nirartha sampai pada suatu tempat di Pantai Utara Pulau Bali yang letaknya di sebelah barat laut Gunung Agung. Tempat itu berupa sebuah Tanjung yang terdiri dari batu batu, dan dari celah-celah batu tersebut tumbuh kayu-kayuan sehingga Tanjung Batu tersebut menjadi semak-semak. Di sana Danghyang Nirartha berhenti dan duduk di atas batu pada tempat yang agak tinggi untuk menikmati pemandangan laut Jawa yang terhampar luas yang sangat mengasyikkan dan menumbuhkan inspirasi baginya.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Silsilah Mahagotra Pasek Kayuselem

by on Jun.06, 2011, under Dunia Babad


Pasek Kayuselem adalah nama sebuah keluarga (soroh / clan) di Pulau Bali yang dimulai sekitar tahun 1000 Masehi.  Tempat lahirnya adalah di Batur Kabupaten Bangli. Awal kehidupan keluarga ini terjadi saat pemerintahan Cri Haji Tapohulung di Samplangan.Keberadaannya konon diciptakan dari Tonggak Kayu (Pohon) Asam atau disebut Kayu Selem (Ireng). Berkat kemampuan bathin Mpu Semeru yang terpesona akan keberadaan tuwed kayu yang terbentuk menyerupai seorang manusia yang tampan, diciptakanlah seorang manusia yang kemudian diangkat menjadi anak oleh beliau Mpu Semeru yang diberi nama Kamareka.

Oleh sebab Mpu Semeru adalah seorang brahmana yang sangat sakti, beliau mengajarkan Kamareka pengetahuan suci Sanghyang Ongkara mantra sehingga beliau memiliki kemampuan menjadi seorang brahmana. Pada saatnya, Mpu Semeru mendiksa (podgala) anak angkatnya menjadi brahmana/bhujangga pada masa itu dengan gelar Mpu Bandesa Dryakah atau Mpu Kamareka.

Mpu Semeru adalah adik kandung dari Mpu Gni Jaya, dan saudara tua dari Mpu Gana, Mpu Kuturan dan Mpu Baradah. Beliau adalah lima pendeta dari Jawa Timur. Di Bali, ke lima Pendeta ini disebut sebagai Panca Tirtha.

(continue reading…)

52 Comments :, , , more...

Bhagawadgita Sloka 39 dan 41 (Bab I)

by on Jun.01, 2011, under Kitab Suci

39. Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk menjauhi dosa semacam ini, wahai Kreshna – bukankah kita melihat kesalahan ini akan mengakibatkan kehancuran keluarga kita?

Arjuna masih menilai bahwa sesuatu kewajiban harus dilaksanakan dengan memikirkan imbalan yang duniawi sifatnya. Sedangkan dharma yang sejati tidak menuntut apa-apa. Dharma harus ditegakkan demi Yang Maha Kuasa, dan apapun yang diberikanNya sesudah itu, baik yang menyenangkan untuk kita atau yang membuat kita menderita karenanya, haruslah diterima sebagai pemberianNya. Dan itu harus ihlas, tanpa pamrih. Semua dharma kita adalah kewajiban dan persembahan kita kepadaNya, bahkan harus penuh dengan tanggung-jawab yang tulus kepadaNya bukan kepada kehendak unsur-unsur duniawi yang banyak terdapat disekitar kita, yang kalau dihitung seakan-akan tiada habisnya.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...