Kayuselem

Archive for March, 2012

Desa Pakraman dan Banjar Pakraman

by on Mar.30, 2012, under Adat

Di Pulau Bali atau di Provinsi Bali terdapat istilah Desa Pakraman. Desa ini sedikit berbeda pengertiannya dengan Desa yang biasa kita pahami yakni suatu wilayah yg memiliki penduduk dgn jumlah tertentu pada suatu lingkup administrasi Desa yg terdiri dari satu atau beberapa Lingkungan/Dusun dgn dikepalai oleh seorang Kepala Desa.

Menurut Perda Provinsi Bali Nomor 6 tahun 1986 dijelaskan pengertian Desa Pakraman,Desa Dinas, Banjar Adat dan Kelurahan. Desa pakraman sebagai desa dresta adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan kahyangan tiga/kahyangan desa,yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri,serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

Banjar atau banjar adat adalah kelompok masyarakat yang merupakan bagian dari desa pakraman,serta merupakan suatu ikatan tradisi yg sangat kuat dalam suatu kesatuan wilayah tertentu,dengan seorang atau lebih pemimpin,yg dpt bertindak ke dalam atau ke luar dlm rangka kepentingan warganya dan memiliki kekayaan,baik berupa material maupun immaterial. Satu desa pakraman biasanya terdiri dari beberapa banjar adat. Namun ada pula satu desa pakraman hanya terdiri dari satu banjar adat. Desa pakraman dipimpin prajuru adat yang terdiri dari Bendesa adat dan beberapa orang pembantu/petajuh. Banjar adat dipimpin oleh prajuru banjar, yang terdiri dari kelihan banjar dan dibantu beberapa orang petajuh.

Desa dinas adalah suatu wilayah yg ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum,termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum yg mempunyai organisasi pemerintahan terendah,langsung di bawah camat, dan berhak melaksanakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa dinas atau desa, dikepalai seorang kepala desa. Desa dinas biasanya terdiri dari beberapa banjar atau sekarang dikenal dengan dusun. Dengan kondisi seperti digambarkan di atas, akhirnya dapat dijumpai satu desa pakraman terdiri dari satu desa dinas, ada satu desa pakraman terdiri dari beberapa desa dinas dan sebaliknya adat satu desa dinas terdiri dari beberapa desa pakraman.

Kelurahan adalah suatu wilayah yg ditempati oleh sejumlah penduduk yg mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat, yg tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri. Kelurahan dikepalai seorang lurah. Satu kelurahan terdiri dari beberapa lingkungan yang dikepalai seorang kepala lingkungan. Perlu ditambahkan bahwa apa yg sekarang dikenal dengan kelurahan dan desa dinas,umumnya berasal dari desa /keperbekelan, yang pada zaman dulu dipimpin seorang perbekel. Sedangkan banjar/dusum dikepalai seorang kelihan dinas/kepala dusun.

Leave a Comment :, more...

Pancaran Suci Pura Pusering Jagat Pejeng

by on Mar.24, 2012, under Pura

Pura yang termasuk ke dalam Sad Kahyangan di Bali ini letaknya di tengah-tengah Sad Kahyangan lainnya yaitu Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Uluwatu dan Pura Batukaru. Sesuai dengan letaknya yang di tengah-tengah, Pura ini merupakan pusatnya semesta atau pusatnya Bali. Pura ini terletak di Desa Pejeng yang dimasa lampau merupakan pusatnya Kerajaan Bali Kuna. Banyak pendapat yang menduga bahwa kata “Pejeng” berasal dari kata”Pajeng” yang berarti payung. Dari Desa Pejeng inilah para raja Bali Kuna memayungi rakyatnya dengan penuh kasih sayang dan cinta damai. Namun, ada juga yang menduga kata pejeng berasal dari kata pajang (bahasa Jawa Kuna) yang berarti sinar. Diyakini, dari sinilah sinar kecemerlangan dipancarkan ke seluruh jagat.

Ditemukan bahwa dalam lontar-lontar Kuna, Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Dibalik penamaan itu tentunya akan mengingatkan masyarakat Hindu pada cerita Adi Parwa yang banyak mengisahkan perjuangan para dewa dalam mencari tirta amertha (air kehidupan) di tengah lautan Ksirnawa.

Di pura ini banyak sekali terdapat arca yang menunjukkan bahwa Pura Pusering Jagat merupakan tempat pemujaan Siwa seperti Arca Ganesha (putera Siwa), Durga, juga arca-arca Bhairawa. Ada juga arca yang berbentuk unik karena menyerupai kelamin laki-laki (purusa) dan perempuan (pradana). Dalam konteks agama Hindu, keduanya yaitu Purusa dan Pradana ini merupakan yang pertama kali diciptakan Tuhan. Purusa merupakan benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana berupa benih-benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni. Di pura ini juga terdapat peninggalan kuno berbentuk bejana yang disebut sangku sudamala yang melambangkan limpahan air suci untuk kehidupan. Di dalam sangku sudamala ini terdapat gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , , , , more...

Makna hari Suci Nyepi yang Sesungguhnya

by on Mar.22, 2012, under Buah Pikiran

Banyak kalangan lain melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu Nusantara merayakan Tahun Barunya. Umat lain merayakannya dengan kemeriahan, pesta makan-minum, pakaian baru, dan sebagainya.

Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistem kalender Hindu Nusantara, yaitu di saat “Uttarayana” (hari pertama matahari dari katulistiwa menuju ke garis peredaran di lintang utara), merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana hening:

  1. Tanpa kegiatan (amati karya)
  2. Tanpa menyalakan api (amati gni)
  3. Tidak keluar rumah (amati lelungaan)
  4. Tanpa hiburan (amati lelanguan)

yang dikenal dengan istilah “Catur Berata Penyepian”.

Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mengadakan koreksi total pada diri sendiri, serta menilai pelaksanaan trikaya (kayika = perbuatan, wacika = perkataan, manacika = pikiran) di masa lampau, kemudian merencanakan trikaya parisudha (trikaya yang suci) di masa depan.

Di hari itu pula umat Hindu mengevaluasi dirinya, sudah seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada hakekat tujuan hidup di dunia ini.

Dengan amati karya, kita mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan samadhi; dalam suasana amati gni, pikiran akan lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi; pembatasan gerak bepergian keluar rumah berupa amati lelungaan dengan mengurung diri di suatu tempat tertentu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mensucikan pikiran.

Tempat itu bisa di rumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu saja dalam prosesi itu kita wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang menyenangkan yang dinikmati melalui panca indra (amati lelanguan).

Kemampuan mengendalikan panca indra adalah dasar utama mengendalikan kayika, wacika, dan manacika sehingga jika sudah terbiasa akan mudah melaksanakan tapa yadnya. Walaupun tidak dengan tegas dinyatakan dalam susastra, pada hari Nyepi seharusnya kita melakukan upawasa atau berpuasa menurut kemampuan masing-masing.

Jenis-jenis puasa antara lain: tidak makan dan minum selama 24 jam, atau siang hari saja, atau bentuk puasa yang ringan, yaitu hanya memakan nasi putih dengan air kelapa gading yang muda.

Setelah Nyepi, diharapkan kita sudah mempunyai nilai tertentu dalam evaluasi kiprah masa lalu dan rencana bentuk kehidupan selanjutnya yang mengacu pada menutup kekurangan-kekurangan nilai dan meningkatkan kualitas beragama.

Demikianlah tahun demi tahun berlalu sehingga semakin lama kita umat Hindu akan semakin mengerti pada hakekat kehidupan di dunia, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang dharma, dan menjauhi hal-hal yang bersifat adharma.

Hari raya Nyepi dan hari-hari raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyadaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tattwa atau falsafahnya.

Seandainya mayoritas umat Hindu Nusantara menyadari hal ini, pastilah masyarakat yang Satyam, Siwam, Sundaram akan dapat tercapai dengan mudah.

Kelemahan tradisi beragama umat Hindu khususnya yang tinggal di Bali, adalah terlalu banyak berkutat pada segi-segi ritual (upacara) sehingga segi-segi tattwa dan susila kurang diperhatikan. Tidak sedikit dari kita merasa sudah beragama hanya dengan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya saja.

Salah satu segi tattwa yang kurang diperhatikan misalnya mewujudkan trihitakarana. Perkataan ini sering menjadi slogan yang populer, diucapkan oleh berbagai tokoh dengan gempita tanpa menghayati makna dan aplikasinya yang riil di kehidupan sehari-hari.

Trihitakarana, tiga hal yang mewujudkan kebaikan, yaitu:

  1. Keharmonisan hubungan manusia dengan Hyang Widhi (Pariangan)
  2. Keharmonisan hubungan manusia sesama manusia (Pawongan)
  3. Keharmonisan hubungan manusia dengan alam (Palemahan)

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Rerahinan Umat Hindu Bali bulan Maret 2012

by on Mar.01, 2012, under Kitab Suci

07-03-2012. Buda Keliwon Pegatuwakan. Hari ini menghaturkan sesaji kehadapan Shang Hyang Widi, sebagai tanda puji syukur atas kemurahan beliau melimpahkan rahmatNya sehingga hari raya Galungan dan Kuningan berjalan dengan selamat.

07-03-2012. Purnama.

12-03-2012. Kajeng Keliwon Uwudan.

17-03-2012. Tumpek Krulut. Menghaturkan sesaji kepada Ida Sang Hyang Widi / Bhatara Iswara di Sanggah Kemulan, mohon keselamatan.

21-03-2012. Buda Wage Merakih. Pemujaan kehadapan Bhatara Rambut Sedana yang disebut juga Sang Hyang Rambut Kadhala.

22-03-2012. Tilem.

23-03-2012. Hari Bhatara Sri.

23-03-2012. Hari Raya Nyepi. Hari ini melakukan catur brata penyepian dan meditasi

24-03-2012. Ngembak Geni.

27-03-2012. Anggar Kasih Tambir.

Leave a Comment : more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...