Kayuselem

Author Archive

Yang dangkal diatas, yang dalam dibawah

by on Apr.13, 2017, under Buah Pikiran

Ketika engkau masih kecil, dengan pikiran yang sederhana dan cenderung ceria, sangatlah mudah untuk melihat dunia dengan perspektif yang indah dan penuh pesona. Dunia dalam hal ini adalah alam sekitar dan juga makhluk hidup yang mendiaminya. Hal inilah yang dinamakan berpikir secara dangkal yaitu hanya berdasarkan atas apa yang dilihat di permukaan. Jika diselami lebih dalam, dalam kehidupan ini, yang engkau mulai rasakan ketika engkau beranjak remaja dan dewasa adalah penuh suka duka. Suka dan duka silih berganti, sesuai dengan persepsi yang ada dalam pikiranmu.
Demikian pula yang terjadi pada orang lainnya, saudaramu, teman-temanmu dan seluruh manusia di dunia. Mereka yang telah berpikir secara dewasa, tidak akan serta merta menilai sesuatu secara dangkal atau yang terlihat di permukaan. Mereka akan menilai menimbang dan memutuskan sesuatu dengan menyelami secara benar dahulu, bukan hanya sekedar melihat dan menilai yang ada di permukaan belaka. Dalam kehidupanmu engkau akan temui dua jenis manusia ini, yaitu mereka yang hanya melihat di permukaan, dan yang menyelami lebih dalam segala sesuatunya dalam hidup ini.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Pendidikan Membentuk Karakter

by on Feb.01, 2017, under Buah Pikiran

Satu lagi kutipan catatan harian Saya.

Sejak usia 3 tahun, engkau telah memulai memasuki dunia pendidikan, paling tidak dunia pendidikan usia dini, yang dikenal pada jaman itu sebagai PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), yang pada jaman orangtuamu ini, disebut TK, Taman Kanak-kanak. Kenapa demikian, ya benar, karena program pemerintah tentunya. Namun, semuanya berdasarkan akan kebutuhan pendidikan pada usia dini dari seorang manusia yang hidup dalam lingkungan yang berdadab. Mengapa ? pendidikan usia dini ini, ditujukan bukanlah bertujuan untuk menyerap secara besar-besaran pendidikan ilmiah ataupun pendidikan formal, melainkan memberikan pondasi atau dasar yang kuat bagi insan-insan muda yang baru saja mengenal pendidikan atau bisa dibilang sebagai kertas putih yang masih bersih.

Pondasi atau dasar apakah yang wajib diberikan? Rasa kasih terhadap sesama, mengenal alam sekitar dan berinteraksi secara aman dengannya, mengenal nilai dan norma yang diambil dari nilai ataupun kebiasaan adat istiadat setempat yang memiliki nilai luhur yang telah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.

Sehingga, ketika engkau melanjutkan pendidikanmu ke jenjang yang lebih tinggi, baik itu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah maupun Atas, hendaknya kemampuan, pengetahuan dan keterampilan yang engkau miliki digunakan hanya untuk kebaikan yang engkau peroleh dasarnya pada waktu menempuh pendidikan pada usia dini tersebut. Walaupun pada setiap jenjang pendidikan engkau temui tentang penguatan kembali dasar-dasar tersebut.

(continue reading…)

Leave a Comment : more...

Kepercayaan Hindu Bali tentang Saudara Empat

by on Jan.24, 2017, under Buah Pikiran

Ini adalah salah satu kutipan dari Catatan harian Saya, sebagai seorang ayah dan anggota keluarga.
Saat engkau lahir, waktu dan tempat telah ditentukan olehNya. Yakinlah, bahwa itulah waktu terbaikmu. Dalam kepercayaan Hindu di Bali, ada istilah wewaran, yaitu penamaan hari menurut perbintangan Bali. Wariga, dibuat oleh leluhur orang Bali, yang berkembang di tanah Jawa dan kemudian dibawa ke Bali. Wariga memuat baik buruknya hari, yang mempengaruhi pembawaan masing-masing manusia. Namun, yakinlah bahwa Tuhan telah memberikanmu kesempatan hidup, itulah yg utama. Waktu lahirmu telah ditentukanNya, dan tidak ada seorang manusiapun yang bisa menyangkalnya. Karena itulah,engkau wajib bersyukur dan menghormati hari lahirmu.

Saat engkau lahir,engkau ditemani oleh empat saudaramu yang selalu menyokong kehidupanmu saat di dalam kandungan. Mereka lahir bersamamu, yaitu ari-ari, lamas, darah dan air ketuban. Menurut kepercayaan Hindu Bali, saudara empat ini selalu menemani manusia sampai ia kembali kepada Sang Pencipta. Mereka selalu menemani dalam suka dan duka. Tatkala engkau telah mengetahui hal ini, maka seyogyanya mulai tumbuh suatu kepercayaan dalam dirimu, bahwa engkau memiliki saudara paling hakiki yang selalu ada menyertaimu, tanpa engkau sadari. Sehingga, mulai saat ini, yakinilah mereka ada dan berusahalah berkomunikasi dengan mereka. Semua yang engkau inginkan, perlindungan dan segala bantuan yang positif akan datang dari saudara empat ini. Sehingga, mulailah sapa mereka, dan jalinlah hubungan yang baik dengan mereka.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , , more...

Buku Lalintih Sang Catur Sanak Bali

by on Nov.09, 2016, under Uncategorized

sampul-buku-lalintih-scsb

Om Swastyastu,
Nunas ampure semeton tityang sareng sami, santukan tityang nenten meduwe data utawi informasi terkini ring dije dados numbas utawi ngerereh buku Lalintih Sang Catur Sanak Bali terbitan Yayasan Tan Mukti Palapa, niki wenten hasil scan dari buku punika, yening Ida dane semeton tityang wenten arsa jagi ngwacen, dados ngirim email ke agusukerta@gmail.com. Jagi kirim tyang copy dalam bentuk scan ke MS Word. Niki wantah inisiatif pribadi dan semeton tityang Bpk Gede Dananjaya,S.Kom, dumogi mapikenoh. Niki wantah “UNTUK KALANGAN SENDIRI” nggih, nenten dados disebarluaskan untuk komersil. Suksma..

Leave a Comment more...

Makna Yadnya menurut sastra agama dan hasil perenungan

by on Dec.25, 2015, under Buah Pikiran

Apakah itu yadnya ? dalam agama Hindu yadnya lumrah disebut dalam hal upacara sehari-hari, misal yadnya sesa, segehan, caru, dan dalam berbagai bentuk lainnya. Apakah yadnya hanya suatu bentuk menghaturkan kurban? Kata Yadnya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari akar kata “yaj” yang artinya memuja, mempersembahkan, atau korban. Dalam kitab Bhagawadgita dijelaskan Yadnya artinya suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keiklasan dan kesadaran untuk melaksanakan persembahan kepada Tuhan. Yadnya berasal dari sloka berikut : “sahayajnah prajah srishtva, paro vacha prajapatih, Anema prasavish dhvam, esha yostvisha kamadhuk” Pada zaman dulu kala Praja Pati (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan manusia dengan Yadnya dan bersabda. Dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu. Hal ini kemudian menimbulkan Tri Rna, atau tiga hutang yang harus di bayar pada saat manusia lahir ke dunia. Untuk itulah, kemudian dalam agama Hindu ada istilah Panca Yadnya, yaitu yadnya kepada Tuhan, Dewa Yadnya, kepada Manusia, Manusa Yadnya, Rsi/Guru Yadnya, Pitra/Leluhur Yadnya, dan Bhuta Yadnya.

Dalam pelaksanaannya, seperti kita ketahui bersama, khususnya di Bali, pelaksanaan Panca Yadnya masih terbatas pada kehidupan beragama, yaitu sesuai tiga kerangka agama Hindu, maka yang lebih ditekankan adalah upacara. Dua kerangka yang lain, sering dilupakan, karena mungkin memang bidang kehidupannya sedikit berbeda, yaitu bukan dari bidang agama, melainkan bidang sosial maupun kehidupan pribadi. Dua kerangka tersebut adalah dari segi tatwa dan etika. Dari segi Tatwa, Panca Yadnya hendaknya dipahami dari sastra agama dan juga filsafat yang terkandung di dalamnya. Sebuah korban suci atas hutang/Rna dari Yang Maha Esa, haruslah dipahami sebagai sebuah cinta kasih, keterikatan kita akan asal muasal kita kepada Beliau yang Maha Ada dan Kekal. Itulah makna hutang/rna. Dengan melaksanakan yadnya, kita berusaha kembali mengingatkan diri kita akan jadi diri yang sejati.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Karma Phala, sebuah aksi-reaksi

by on Nov.06, 2015, under Buah Pikiran

Karma Phala tersusun dari kata karma dan phala. Menurut terjemahan bahasa sanskerta, Karma berarti perbuatan dan phala artinya buah. Sehingga dapat disimpulkan, Karma Phala maksudnya adalah buah atau hasil dari setiap perbuatan. Agama Hindu mengenal adanya Tri Kaya Parisudha, yaitu Tiga hal/perbuatan (pikiran, perkataan dan tindakan) yang patut disucikan untuk memperoleh Phala yang baik.

Berangkat dari pengertian secara harfiah tersebut, Karma Phala adalah sebuah reaksi dari sebuah aksi yang dilakukan baik oleh pikiran, perkataan maupun tindakan seorang manusia. Dalam Panca Sraddha, disebutkan bahwa Agama Hindu percaya dengan adanya Karma Phala. Karma Phala dalam hal ini menurut pengertian saya berdasarkan pengetahuan yang telah diketahui seperti disebutkan di atas, tiada lain adalah sebuah reaksi terhadap aksi. Aturan umum yang berlaku adalah bahwa sifat alam semesta buwana agung maupun manusianya atau buwana alit selalu sejalan, maka pengembangan sikap Tri Kaya Parisudha akan menghasilkan Karma Phala yang mendukung terciptanya kebahagiaan setiap makhluk dan keberlangsungan alam semesta. Semesta dan isinya selalu menuju kepada Keseimbangan, karena itulah semuanya berputar dalam kehidupan ini.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Sebuah Pilihan Hidup

by on Aug.20, 2015, under Buah Pikiran

lentera

Om Swastyastu

Zaman sekarang, khususnya di Bali semakin semarak dan antusiasnya krama Bali Hindu dalam melakukan yadnya terutama dalam lingkup upacara, tentu sangat membanggakan. Terlebih semakin luasnya informasi dalam pembuatan sarana upakara yaitu banten dan lain-lain secara terang-terangan dan terbuka untuk umum dalam acara televisi, workshop maupun kegiatan ekstra di sekolah. Hal ini mendorong umat untuk semakin meningkatkan srada bhkatinya dalam melakukan yadnya.

Tentu saja kemajuan dalam bidang pelaksanaan yadnya ini patut diimbangi adanya pemahaman akan pelaksanaan yadnya dalam diri, kepada sesama manusia, dan lingkungan sebagai perwujudan Tuhan itu sendiri. Apa saja bentuk yadnya kepada diri sendiri? salah satunya adalah bernapas, makan minum yang satwik, melakukan olah raga, yoga, belajar dan sbgnya. Yadnya kepada sesama seperti toleransi, tatakrama, teposeliro, tenggang rasa, gotong royong, persaudaraan, saling menghormati dan tolong menolong tanpa pamrih. Yadnya kepada lingkungan adalah dengan menjaga dan melestarikan keseimbangan alam beserta isinya, reboisasi, penghijauan, tidak melanggar sempadan sungai, laut, tebing, jalan dan lainnya misalnya. Tidak merusak hutan, mengotori air, eksploitasi berlebihan dan sbgnya.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , , more...

Silsilah Bhagawanta di Bali

by on Feb.22, 2014, under Dunia Babad

Silsilah bhagawanta tersebut diatas untuk mempermudah melihat garis keturunan, leluhur dan perjalanan Para Maha Rsi kita di Bali yang dikutip dalam sebuah babad yaitu Babad Manik Angkeran sebagai sumber referensi.

Kisah ini dimulai di kawasan Jawa, ada pendeta maha sakti bernama Danghyang Bajrasatwa. Ada putranya Iaki laki seorang bernama Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita, beliau memang pendeta Budha, memiliki kepandaian luar biasa serta bijaksana dan mahasakti seperti ayahnya Danghyang Bajrasatwa. Ida Danghyang Tanuhun berputra lima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.
(continue reading…)

2 Comments :, more...

Pura Samuan Tiga di Bedulu Gianyar

by on Feb.21, 2014, under Pura

Pura Samuan Tiga
Jika menyisir keberadaan Bedulu dan Pura Samuan Tiga dari data teks tentang sejarah Bali masa lalu, Drs. I Wayan Patera, M.Hum, yang juga Klian Paruman Pura Samuan Tiga, dalam tulisannya tentang Pura Samuan Tiga mengutip lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul terutama pada bagian yang menguraikan tentang Samuantiga, sebagai berikut:

“….. ri masa ika hana malih kahyangan Samuantiga, ika maka cihna mwah genah i kang para Dewa-Dewata Bhatara-Bhatari mwah kang para Rsi ika makabehan paum duking masa ika, kang ingaranan pura Samuantiga ri mangke”
Artinya:
“….. pada masa itu ada lagi kahyangan (tempat suci) yang bernama kahyangan Samuantiga, itu sebagai tanda dan tempat dimana para Dewa dan Dewata, Bhatara-Bhatari dan lagi para Resi (pendeta) seluruhnya rapat (musyawarah) pada masa itu dinamai pura Samuatiga sampai sekarang”
(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Sanggah Pamerajan

by on Jun.15, 2013, under Kitab Suci

sanggah1      sanggah2

Jika kita amati Sanggah Pamerajan yang ada khususnya di Pulau Bali, kita akan menemukan susunan pelinggih yang berbeda-beda. Hal ini tentu tidak terjadi secara kebetulan atau merupakan suatu kesalahan. Semuanya tentu berdasar, dan seiring waktu hal ini wajib kita pahami sebagai generasi penerus dan dilanjutkan oleh anak dan cucu kita. Pengertian ini penting untuk diketahui agar terjadi pemahaman akan perbedaan yang ada sehingga Agama Hindu tidak dipecahbelah oleh ketidaktahuan kita.

Berikut  penjelasan mengenai pelinggih yang ada di Sanggah Pamerajan, serta sejarahnya mengapa Sanggah Pamerajan kita berbeda-beda. Banyak Saudara kita yang tidak mau ikut bersembahyang di Sanggah Pamerajan karena konsep yang ada dalam pikiran mereka berbeda tentang Sanggah Pamerajan. “Apakah saya benar menyembah leluhur mereka?” atau “Tidak ada Padmasana di Sanggahmu, keluarga saya tidak boleh sembahyang jika tidak ada Padmasana” dan lain sebagainya.

(continue reading…)

2 Comments more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...