Kayuselem

Author Archive

Catur Warna dan Kasta di Hindu Bali

by on Nov.25, 2011, under Buah Pikiran

Walaupun telah jelas-jelas tersurat dan tersirat dalam kitab-kitab suci umat Hindu khususnya Rg Weda, bahwa tidak ada catur kasta, yang ada adalah catur warna. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali masih erat memegang teguh kasta. Untuk lebih jelas mengenai apa itu kasta dan apa itu warna, kutipan dari Bhagawan Dwija di bawah mungkin dapat memperjelasnya secara arif :

1. Catur Warna adalah empat “warna” atau profesi manusia dalam kehidupan, yaitu:

  1. Warna (profesi) Brahmana bagi para Rohaniawan, Guru, Dosen, Yudikatif, Paramedik, Seniman, dll.
  2. Warna (profesi) Kesatrya bagi pemimpin/ pegawai Pemerintahan/ Eksekutif/ Legislatif , Polisi, TNI, dll.
  3. Warna (profesi) Wesya bagi usahawan, industriawan, pedagang jasa, dll.
  4. Warna (profesi) Sudra bagi pekerja kasar, petani, peternak, nelayan, dll.

2. Brahmana lahir dari kepala, maksudnya dalam menjalankan profesinya mereka banyak menggunakan daya pikir. Kesatrya lahir dari tangan, maksudnya dalam menjalankan profesinya mereka banyak menggunakan ketrampilan tangan.

(continue reading…)

9 Comments :, more...

Pura Hulun Danu Batur di Songan

by on Oct.20, 2011, under Pura

Pura Hulundanu Batur di Songan merupakan salah satu dari Tri Kahyangan Jagat yang ada di Bali. Terletak di hulu Danau Batur (kaja kangin) atau lazim disebut Hulundanu Batur. Keberadaan Pura ini bisa ditelusuri melalui purana Pura Hulun Danu Batur di Songan.

”MANGKE nemuaken apan manira ngamertaning wong Bali kabeh, tan paran mapinunas mertha ring parhyangan nira ring Hulun Danu, ngawe gemuh ikang rat”. Itulah tertuang dalam kitab purana Pura Hulun Danu Batur di Songan.

Berdasarkan prakempa pura itu membuat krama Bali berbondong-bondong melakukan yadnya di pura yang berlokasi di bibir timur Danau Batur tersebut. Selain pengempon pura (warga Songan), krama Bali termasuk sejumlah pejabat (bupati) sudah ngayah di Pura Kahyangan Jagat itu sebelum upacara Bhatara Turun Kabeh pada 19 September lalu. Ketua Panitia Pemugaran, I Kadek Ardhi Negara, yang didampingi Dane Jro Gede Hulun Danu, mengatakan Ida Batara akan mesineb pada 29 September, tepatnya pada tengah malam. Pujawali dilaksakan setiap purnamaning Sasih Kapat.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Pura Tirtha Sudamala Bebalang Bangli

by on Oct.19, 2011, under Pura

Pura Tirta Sudamala terletak di Desa Bebalang Bangli. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota Bangli tepatnya kurang lebih 1km arah barat daya pusat kota Bangli. Jalan menuju ke Pura ini telah banyak ditandai dengan plang petunjuk ke arah Pura, jadi jangan khawatir tidak ketemu. Atau jika plang petunjuk tidak terlihat semisal berangkat pada sore hari atau malam hari, kita bisa menanyakan kepada masyarakat Desa Bebalang ke arah mana menuju Pura Tirtha Sudamala, yakinlah bahwa semua masyarakat disana akan memberi petunjuk yang benar tentang lokasi Pura tersebut.  Untuk mencapai lokasi Pura, harus melalui jalan yang cukup berliku dan kadang cukup curam dan sempit untuk dilalui kendaraan roda empat, tapi tidak perlu khawatir, karena kondisi jalannya cukup bagus.

Pura Tirta Sudamala, memiliki sejumlah pancuran dengan ukuran dan ketinggian berbeda kurang lebih terdapat sekitar 11 pancuran. Air pancuran berasal dari mata air di sekitar sebuah pohon bunut besar yang telah berusia ratusan tahun. Mata air ini tidak pernah kering, meskipun saat sedang musim kemarau.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Warga Pasek Kayu Selem atau Warga Kayu Selem?

by on Aug.08, 2011, under Buah Pikiran

Ini adalah kutipan dari Surat Pembaca pada harian Bali Post tentang sebutan bagi clan atau soroh atau keluarga Pasek Kayuselem. Berikut kutipannya :

———————————————————————————————————————-

Warga Pasek Kayu Selem atau Warga Kayu Selem?

Yang terhormat para pembaca Bali Post dan PHDI, saya seorang anak muda dan ingin sekali tahu tentang sejarah dan babad Warga Pasek Kayu Selem atau Warga Kayu Selem. Ada yang menggunakan nama Warga Pasek Kayu Selem dan Warga Kayu Selem. Yang ingin saya tanyakan:

1. Dari dua nama yang saya sebutkan di atas mana yang benar apakah Warga Pasek Kayu Selem atau Warga Kayu Selem?

2. Apakah Warga Kayu Selem termasuk warga Pasek atau tidak?

3. Dalam melaksanakan upacara keagamaan seperti Pitra Yadnya (Ngaben), dalam muput upacara apakah menggunakan pedanda (pandita) atau empu?

Saya berharap pembaca yang budiman dan tokoh rohaniwan Hindu maupun PHDI yang tahu sejarahnya, sudi kiranya memberikan informasi kepada saya sehingga nantinya saya bisa menjelaskan kepada anak dan cucu saya yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan dan melakukan perbaikan ke depannya, agar saya sebagai warga Kayu Selem tidak salah mengambil langkah.

Tidak ada maksud dan tujuan saya memecah belah sesama umat Hindu, saya hanya ingin tahu sejarah dan kebenaran para leluhur saya. Semoga dengan ini kita bisa saling bertukar informasi dan menjaga keharmonisan sesama umat.

I Nyoman Suardika

Br. Samu Singapadu Kaler Sukawati, Gianyar

———————————————————————————————————————-

Dari kutipan tersebut di atas, dapat Saya sampaikan beberapa hal yang menurut saya dapat menjawab secara benar atau barangkali mendekati kebenaran.

1. Sebutan atau nama dari keluarga / soroh Kayuselem dapat disebut Warga Pasek Kayuselem atau Warga Kayuselem. Semuanya sama atau maksudnya mengarah pada salah satu keluarga keturunan Mpu Kamareka. Kata yang membedakan hanyalah kata Pasek, hal mana ini merupakan sebutan sebuah Jabatan pada pemerintahan Dalem Klungkung. Oleh karena salah satu keluarga Kayuselem dahulu memperoleh jabatan sebagai pemimpin sebuah wilayah tertentu atau macekin (menjadi pengikat / pemersatu warga). Sehingga diberikan nama sebutan Pasek / Pasak / Pakis / Paku.

2. Apakah Kayuselem termasuk warga Pasek? Pasek yang mana? namanya saja sudah Pasek Kayuselem, jelas merupakan keluarga Pasek. Jika dikaitkan dengan Pasek keturunan Mpu Mpu Sanak Sapta Resi, maka hubungannya adalah bahwa Asal dari Sanak Sapta Resi ialah Mpu Gni Jaya yang berparahyangan di Lempuyang Madya, beliau menurunkan 7 (tujuh) Resi yang dikenal dengan Sapta Resi yang kemudian lalu menurunkan Sanak Sapta Resi. Adik beliau Mpu Gni Jaya bernama Mpu Semeru yang berparahyangan di Besakih atau tepatnya di Pura Ratu Pasek sekarang. Beliau tidak menikah, atau nyukla brahmacari namun memiliki putra dari buah pikiran beliau yang suci bernama Mpu Bendesa Dryakah atau lebih dikenal dengan Mpu Kamareka. Mpu Kamareka dalam pertapaan beliau menikahi Bidadari Kuning yang kemudian menurunkan Sang Catur Sanak yaitu keluarga Kayuselem, Celagi, Tarunyan dan Kayuan.

3. Dalam muput sebuah upacara baik itu Dewa yadnya, Manusa yadnya, pitra yadnya dan Bhuta Yadnya, hendaklah mengacu kepada tuntunan Agama Hindu, yaitu bila Dewa yadnya , manusa yadnya, pitra yadnya biasanya memohon kepada Pedanda/Mpu/Rsi Bhagawan/Bhujangga/Dukuh dan sebutan lainnya yang pada prinsipnya sama saja. Untuk Bhuta yadnya biasanya memohon kepada Ida Resi Bhujangga, atau dapat juga kepada Ida Meraga Sulinggih yang lainnya. Upacara boleh dipuput oleh Sang Meraga Sulinggih baik dari soroh sendiri maupun soroh lain, asal beliau berkompeten dalam menjalankan swadarmanya.

Demikian jawabannya, Saya berharap dapat menjadi lentera bagi umat sedharma dalam mengarungi kehidupan beragama Hindu khususnya di Bali.

Leave a Comment :, more...

Pura Masceti di pesisir Gianyar

by on Jul.16, 2011, under Pura


PURA Masceti berstatus Pura Kahyangan Jagat, kerap didatangi oleh umat dari sejebag jagat Bali. Pura Masceti yang terletak di tepian pantai Desa Medahan-Keramas, Blahbatuh, Gianyar, kerap menjadi tempat mencari keheningan jiwa. Pura suci yang berusia tua yang juga merupakan kisah tapak tilas Dhang Hyang Dwijendra ini ramai dikunjungi di saat hari suci umat Hindu. Setiap hari Purnama, Tilem, Siwaratri bahkan saat diselenggarakan piodalan pada Anggarkasih, Medangsia jejalan umat selalu memadati pura untuk melakukan persembahyangan.

Menurut Jero Mangku Pura Masceti, kata ”Masceti” terdiri atas dua suku kata, yakni Mas (sinar) dan Ceti (keluar masuk). Namun soal keberadaan Pura Masceti ini tidak satu pun orang mengetahui kapan pertama kali Pura Masceti dibangun. Meski tak ada prasasti, sebagai bukti tertulis akan keberadaan pura ini ada bukti purana yang sumbernya dari kumpulan data dari berbagai prasasti yang menyebutkan keberadaan pura tersebut.
Pura Masceti yang menjadi Pura Kahyangan Jagat ini juga berstatus sebagai Pura Swagina (profesi). Sebagai Pura Swagina, Pura Masceti bertalian erat dengan fungsi pura sebagai para petani untuk memohon keselamatan lahan pertanian mereka dari segala merana (penyakit).

Jero Mangku Pura Masceti mengatakan, keberadaan Pura Masceti berdasarkan Dwijendra Tatwa adalah kisah perjalanan suci tokoh rohaniwan dari tanah Jawa. Di sini disebutkan bahwa kisah perjalanan Danghyang Dwijendra, pada zaman Kerajaan Dalem Warturengong sekitar abad XIII.

Saat itu Dhanghyang Dwijendra meninggalkan Desa Mas, melewati Banjar Rangkan, Desa Guwang, Sukawati, menuju pantai selatan ke timur ke daerah Lebih. Saat melewati Pura Masceti, di tengah sejuknya angin pantai, Dhanghyang Dwijendra merasakan dan mencium bau harum semerbak yang menandakan adanya Dewa yang turun. Sebuah cahaya tampak terlihat dari dalam Pura Masceti.

Dhanghyang Dwijendra pun masuk ke dalam pura yang pada waktu itu pelinggihnya hanya berupa bebaturan (bebatuan). Di sana beliau serta merta melakukan persembahyangan, menyembah Tuhan. Namun pada saat itu tidak diperkenankan oleh Ida Batara Masceti, mengingat Dhanghyang Dwijendra sebentar lagi melakukan moksa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pura Masceti ini telah ada sebelum Dhanghyang Dwijendra datang ke Bali.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Pura Silayukti, Pura Tanjung Sari dan Telaga Mas Padangbai

by on Jul.06, 2011, under Pura


Pura Silayukti terletak di ujung selatan Gunung Luhur Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Di sebalah selatan membentang laut yang memisahkan antara pulau Bali dengan Nusa Penida. Di sebelah utara berdiri Gunung Luhur. Di sebelah barat teluk Padangbai (Pelabuhan Padangbai). Di sebelah timur Teluk Labuhan Amuk. Pura itu didirikan di atas tanah datar dan menjorok ke laut, menghadap ke selatan.

Untuk mencapai pura itu sudah mudah, karena jalan menuju halaman pura sudah bagus. Namun jika memakai bis besar dan banyak rombongan, sebaiknya parkir di depan sekolah dasar Padangbai dan dari sana perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 400 meter. Pura itu terletak pada ketinggian sekitar 50 meter dari permukaan laut.

Sejarah Pura

Sejarah Pura Silayukti ada disebutkan dalam lontar yaitu :

1. Babad Bendesa Mas. Di dalam lontar ini ada disebutkan: “Tusapa kalah ikang Mayadanawa, cinarita sira sang apuspatha Empu Kuturan, hawelas ring tan hananing ratu, rumaksa tang Bali rajya, saksana turun pwa saking Jawadwipa Mandala, sirajumeneng ratu ring Bali, asrama ring padang Silayukti, irika dewataraka nira Empu Kuturan”. Artinya: Tersebutlah kalahnya Mayadanawa, diceritakanlah beliau yang bergelar Empu Kuturan, beliau kasihan karena tidak adanya raja di Bali, dijaganyalah oleh beliau keraton Bali, maka segeralah beliau datang dari Pulau Jawa, beliau menjabat sebagai raja di Bali, beliau membangun wisma di Silayukti Padang.

2. Dwijendra Tatwa

Di dalam lontar ini disebutkan antara lain: “Tan warnanan ring hawan, dhatang ta sireng Gelgel, lumaris si ring Padang, apan sang prabu sireng padang; wus prapteng Padang sendhu ta sira £ri Waturenggong ling haji, “malah twa pwa kita penyarikan, hangliwari kita semaya, kaya dede selahing wwang atuha, si kita penyarikan dunungan ta sang wawu rawuh ring parhyangan pangastawan ira Empu Kuturan nguni.” Artinya: Tidak diceritakan di dalam perjalanan, datanglah beliau (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) di Gelgel lalu menuju Padang, karena sang raja berada di Padang, setelah tiba di Padang Dalem Baturenggong menjadi mangkel, katanya: “Padahal sudah tua kamu penyarikan, kamu melewatijanji, bukan seperti orangtua kamu berbuat, hai kamu penyarikan istirahatkan beliau yang bam datang itu di palinggih bekas wisma Empu Kuturan dahulu.”

Di dalam rontal Calonarang ada disebutkan bahwa Empu Kuturan yaitu kakak dari Empu Beradah bertapa di Silayukti Pulau Bali. Di dalam rontal Calonarang itulah disebutkan kedatangan Empu Beradah ke Bali sebagai utusan dari raja Airlangga untuk menobatkan salah seorang putranya menjadi raja di Bali. Permintaan Airlangga itu ditolak oleh Empu Kuturan. Di dalam prasasti Pura Kehen B, ada disebutkan, “mpi(ng) hyang Padang sangscaryya netra.” Pada beberapa prasasti Bali Kuna “type punah”, terdapat kata “Senapati Kuturan” seperti yang terdapat dalam Prasasti Pura Desa Gobleg 1037 Q yaitu, “…senapati Kuturan pu caken…” Prasasti Cempaga A 1103 Ç menyebutkan: “senapati Kuturan makakasir dalang capek…” Atas dasar data-data tersebut di atas, maka disimpulkan, bahwa Empu Kuturan datang ke Bali dari Jawa Timur diperkirakan sekitar tahun 1039 M yaitu pada masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur, sebagaimana disebutkan dalam lontar Calonarang.

Berdasarkan Prasasti Calcuta (1042), bahwa Airlangga dinobatkan menjadi raja di Jawa Timur pada tahun 1019 M. la memerintah dari tahun 1019-tahun 1042 dan wafat tahun 1049. Pada tahun 1041 Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua untuk kedua orang putranya. Pembagian itu dilakukan oleh Empu Beradah yaitu adik dari Empu Kuturan, sebagaimana disebutkan di dalam Nagarakrtagama.

Empu Beradah datang ke Bali pada tahun 1041 sebagaimana disebutkan di dalam prasasti Batumadeg. Untuk menemui Empu Kuturan di Silayukti, beliau datang ke Bali sebagai utusan raja Airlangga. Empu Beradah minta kepada Empu Kuturan agar salah sorang putra Airlangga dinobatkan menjadi raja di Bali. Permohonan itu ditolak Empu Kuturan. Demikian dalam lontar Calonarang disebutkan.

(continue reading…)

1 Comment :, , , , , , , more...

Rentetan rahinan Galungan – Kuningan di Bali

by on Jul.04, 2011, under Kitab Suci

TUMPEK WARIGA

Jatuh pada hari Saniscara, Kliwon, Wuku Wariga, atau 25 hari sebelum Galungan. Upacara ngerasakin dan ngatagin dilaksanakan untuk memuja Bhatara Sangkara, manifestasi Hyang Widhi, memohon kesuburan tanaman yang berguna bagi kehidupan manusia.

ANGGARA KASIH JULUNGWANGI

Hari Anggara, Kliwon, Wuku Julungwangi atau 15 hari sebelum Galungan. Upacara memberi lelabaan kepada watek Butha dengan mecaru alit di Sanggah pamerajan dan Pura, serta mengadakan pembersihan area menjelang tibanya hari Galungan.

BUDA PON SUNGSANG

Hari Buda, Pon, Wuku Sungsang atau 7 hari sebelum Galungan. Disebut pula sebagai hari Sugian Pengenten yaitu mulainya Nguncal Balung. Nguncal artinya melepas atau membuang, balung artinya tulang; secara filosofis berarti melepas atau membuang segala kekuatan yang bersifat negatif (adharma). Oleh karena itu disebut juga sebagai Sugian Pengenten, artinya ngentenin (mengingatkan) agar manusia selalu waspada pada godaan-godaan adharma. Pada masa nguncal balung yang berlangsung selama 42 hari (sampai Buda Kliwon Paang) adalah dewasa tidak baik untuk: membangun rumah, tempat suci, membeli ternak peliharaan, dan pawiwahan.

SUGIAN JAWA Hari Wraspati, Wage, Wuku Sungsang, atau 6 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian dan kelestarian Bhuwana Agung (alam semesta).

SUGIAN BALI Hari Sukra, Kliwon, Wuku Sungsang, atau 5 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian, dan keselamatan Bhuwana Alit (diri sendiri).

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Rerahinan Umat Hindu Bali Bulan Juli 2011

by on Jul.01, 2011, under Kitab Suci

1 Juli 2011. Sugihan Bali. Manusia hendaknya memohon kesucian, pembersihan lahir batin kehadapan semua Bhatara. Menghaturkan pengeresikan serta runtutannya di merajan/paibon.

3 Juli 2011. Hari Penyekeban. Pada hari ini sebaiknya waspada dan hati-hati serta menguatkan iman agar tidak tergoda, kena pengaruh Sang Bhuta Galungan. Penyekeban berarti berusaha untuk menguasai/mengendalikan diri.

4 Juli 2011. Penyajaan Galungan. Perlu berhati-hati dan mawas diri karena adanya pengaruh dari Sang Bhuta Dunggulan.

5 Juli 2011. Penampahan Galungan. Pada hari ini dikuasai oleh Sang Bhuta Amengkurat. Oleh karenanya setelah matahari terbenam dialakukan upacara biakala (mabiakala) agar tetap terhindar dari pengaruh Kala Tiganing Galungan yang dilakukan di halaman rumah. Saat ini juga dipasang penjor lengkap dengan segala hiasannya.

6 Juli 2011. Hari Raya Galungan. Hari ini merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma. Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widi dan Dewa/Bhatara dengan segala manifestasinya sebagai tanda puji syukur atas rahmatnya serta untuk keselamatan selanjutnya. Sedangkan penjor yang dipasang di muka tiap-tiap perumahan merupakan persembahan kehadapan Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung.

7 Juli 2011. Manis Galungan. Melakukan upacara nganyarin/penyucian di merajan/sanggah kemulan yang ditujukan kehadapan Hyang Kawitan dan Leluhur.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Renungan

by on Jun.19, 2011, under Buah Pikiran

Renungan dari Bhagawan Dwija

1. Kita wajib bersyukur ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa karena atas karunia-Nya Atman telah ber-reinkarnasi ke dalam tubuh manusia, yang mempunyai: sabda, bayu, idep. Dibandingkan binatang yang mempunyai sabda dan bayu, apalagi tetumbuhan yang hanya mempunyai bayu saja.

2. Pemangku wajib bersyukur karena telah ditakdirkan menjadi manusia suci. Seorang Pemangku tidak begitu saja bisa menjadi Pemangku. Menurut Lontar Yama Purana Tattwa, hidup dan kehidupan manusia sudah direncanakan jauh sebelum ber-reinkarnasi. Oleh karena itu janganlah menganggap bahwa menjadi Pemangku itu suatu “kebetulan”

3. Menjadi Pemangku adalah suatu kebanggaan, karena: Menjadi tapakan Widhi, disayang oleh Ida Sanghyang Widhi/ Dewata/ Bethara. Mempunyai kesempatan yang luas untuk mensucikan diri di jalan Dharma agar mencapai “moksartam jagathita” Mempunyai tugas suci mengabdi kepada masyarakat, sebagai tabungan membentuk karma wasana yang baik.

4. Oleh karena menjadi kesayangan Ida Sanghyang Widhi/ Dewata/ Bethara, pertahankanlah agar tugas suci ini dapat terlaksana dengan baik, menjadi Pemangku yang profesional, sehingga mengharumkan linggih Ida Bethara sesuwunan. Kehidupan Pemangku adalah hidup suci dan berdisiplin.

(continue reading…)

2 Comments :, , more...

Rerahinan Umat Hindu Bali di bulan Juni 2011

by on Jun.10, 2011, under Kitab Suci

Pada bulan Juni 2011  ini, terdapat lumayan banyak rerahinan umat Hindu Bali, walaupun belum menyajikan tuntas Hari Raya Galungan, namun rentetan hari besar dan suci bagi umat Hindu tersebut sudah dimulai pada akhir bulan ini yaitu diantaranya hari Sugihan. Secara lengkap rahinan di bulan Juni 2011 adalah sebagai berikut :

1 Juni 2011. Buda Keliwon Gumbreg.

1 Juni 2011. Tilem.

11 Juni 2011. Tumpek Uduh/Pengatag/Pengarah/Bubuh. Hari ini merupakan peringatan “Kemakmuran’

13 Juni 2011. Soma Paing Warigadean. Memuja Ida Sang Hyang Widi/Bhatara Brahma dan menghaturkan sesaji di merajan/sanggah kemulan.

15 Juni 2011. Buda Wage Warigadean.

15 Juni 2011. Purnama.

16 Juni 2011. Kajeng Keliwon Uwudan.

17 Juni 2011. Hari Bhatara Sri.

21 Juni 2011. Anggar Kasih Julungwangi. Hari ini juga disebut Anggar Kasih Penguduhan yang bertujuan untuk memulai mengadakan pembersihan pada tiap-tiap Parhyangan dalam rangka menyambut hari raya Galungan.

30 Juni 2011. Sugihan Jawa. Pada hari ini juga disebut Parerebon, turunlah semua Bhatara ke dunia. Mengaturkan pengeresikan dab canang raka di merajan/paibon.

30 Juni 2011. Tilem.

Ingat rahinan atau hari baik, ingat sembahyang…

Leave a Comment :, , , more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...