Kayuselem

Adat

Penggunaan Pawukon di Bali

by on Jul.26, 2012, under Adat, Kitab Suci

Dalam setiap kesempatan yang berhubungan dengan hari baik (biasanya dalam melakukan upacara baik dewa yadnya,manusa yadnya,pitra yadnya,rsi yadnya dan bhuta yadnya, termasuk dalam segi kehidupan sesuai swadharmanya masing-masing), umat Hindu di Bali khususnya selalu berpedoman pada yang namanya padewasan. Salah satu pakem yang menjadi padewasan adalah sistem pawukon yang mirip pengucapannya seperti sistem pawukon di Pulau Jawa. Adapun sejarahnya di Bali seperti dituturkan Ida Bhagawan Dwija sebagai berikut :

Sekitar 1000 tahun sebelum Masehi, Maha Rsi Garga, Maha Rsi Bhaskaracarya, Maha Rsi Waramihira, dan Maha Rsi Sundareswarasrauti, menulis apa yang zaman sekarang disebut sebagai Astronomi dan Astrologi; ilmu itu diperoleh dari penglihatan dan Sabda Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Kenyataan yang nampak bahwa pertama-tama ada hari siang dan ada hari malam; lalu ada pergerakan/ peredaran matahari, bulan, bintang terus menerus sepanjang masa. Mulailah manusia mengenal batasan-batasan waktu yang diperhitungkan menurut hari siang/ malam, timbulnya bulan purnama dan bulan gelap, lalu berpengaruh ke musim: panas, hujan, dingin, dsb.

Siklus itu menjadi ukuran waktu minggu, bulan, dan tahun ditulis dalam kitab suci Jyotisa yang tergolong Kitab Suci Wedangga; wedangga berarti “bagian-bagian” yakni alat bantu untuk mempelajari Weda.

Di dalam kitab Jyotisa ditulis nama-nama wuku (mingguan) yang diambil dari nama Raja-raja, Dewa-dewa, dan Planet-planet, yaitu: Sinta s/d Watugunung. Setelah melaksanakan anumana pramana dan mendapat pawisik Ida Sanghyang Widi Wasa, para Maha Rsi tersebut menulis pula dauh/ hari/ wuku yang baik dan buruk untuk tiap-tiap kegiatan, berdasarkan pengaruh letak bintang, garis edar bulan-matahari, dan posisi planet-planet yang lain. Ini dinamakan “dewasa” dan kumpulan dewasa disebutkan dalam “wariga”.

Lontar-lontar wariga di Bali banyak, dan para Pandita tidak selalu berpegang pada lontar yang sama. Lontar tertua yang populer digunakan sekarang berasal dari Rsi Markandeya yang disebarkan di Bali pada tahun 989 (Masehi) di zaman pemerintahan Raja: Sri Ratu Gunapriya Dharmapatni bersama suaminya Dharma Udayana Warmadewa.

Sosialisasi lontar itu pertama kali dilakukan oleh para Mpu yang menjadi Bhagawanta Kerajaan (sekarang disebut Bali-Aga) yakni yang menurunkan para warga Pasek Kayu Selem.

adapun ke-30 (tigapuluh) wuku-wuku tersebut dan bhatara yang menyertainya (lamanya masing-masing wuku adalah satu minggu mulai hari minggu-sabtu) adalah sebagai berikut :

istilah di Jawa, Bali ==>

  1. Sinta – Batara Yama
  2. Landep – Batara Mahadewa
  3. Wukir, Ukir – Batara Mahayakti
  4. Kurantil, Kulantir – Batara Langsur
  5. Tolu, Tulu – Batara Bayu
  6. Gumbreg – Batara Candra
  7. Wariga alit, Wariga – Batara Asmara
  8. Wariga agung, Warigadian – Batara Maharesi
  9. Julangwangi, Julungwangi – Batara Sambu
  10. Sungsang – Batara Gana Ganesa
  11. Galungan, Dungulan – Batara Kamajaya
  12. Kuningan – Batara Indra.
  13. Langkir – Batara Kala
  14. Mandasiya, Medangsia – Batara Brahma
  15. Julung pujut, Pujut – Batara Guritna
  16. Pahang- Batara Tantra
  17. Kuru welut, Krulut – Batara Wisnu
  18. Marakeh, Merakih – Batara Suranggana
  19. Tambir – Batara Siwa
  20. Medangkungan – Batara Basuki
  21. Maktal – Batara Sakri
  22. Wuye, Uye – Batara Kowera
  23. Manahil, Menail – Batara Citragotra
  24. Prangbakat – Batara Bisma
  25. Bala – Batara Durga
  26. Wugu. Ugu – Batara Singajanma
  27. Wayang – Batara Sri
  28. Kulawu, Kelawu – Batara Sadana
  29. Dukut – Batara Sakri. Jika jatuh hari Anggara Kasih, Selasa Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa.
  30. Watu gunung – Batara Anantaboga. Dalam minggu ini jatuh hari Jumat Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa dan hari Saraswati yang dianggap suci oleh orang Bali.
Leave a Comment more...

Desa Pakraman dan Banjar Pakraman

by on Mar.30, 2012, under Adat

Di Pulau Bali atau di Provinsi Bali terdapat istilah Desa Pakraman. Desa ini sedikit berbeda pengertiannya dengan Desa yang biasa kita pahami yakni suatu wilayah yg memiliki penduduk dgn jumlah tertentu pada suatu lingkup administrasi Desa yg terdiri dari satu atau beberapa Lingkungan/Dusun dgn dikepalai oleh seorang Kepala Desa.

Menurut Perda Provinsi Bali Nomor 6 tahun 1986 dijelaskan pengertian Desa Pakraman,Desa Dinas, Banjar Adat dan Kelurahan. Desa pakraman sebagai desa dresta adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan kahyangan tiga/kahyangan desa,yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri,serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

Banjar atau banjar adat adalah kelompok masyarakat yang merupakan bagian dari desa pakraman,serta merupakan suatu ikatan tradisi yg sangat kuat dalam suatu kesatuan wilayah tertentu,dengan seorang atau lebih pemimpin,yg dpt bertindak ke dalam atau ke luar dlm rangka kepentingan warganya dan memiliki kekayaan,baik berupa material maupun immaterial. Satu desa pakraman biasanya terdiri dari beberapa banjar adat. Namun ada pula satu desa pakraman hanya terdiri dari satu banjar adat. Desa pakraman dipimpin prajuru adat yang terdiri dari Bendesa adat dan beberapa orang pembantu/petajuh. Banjar adat dipimpin oleh prajuru banjar, yang terdiri dari kelihan banjar dan dibantu beberapa orang petajuh.

Desa dinas adalah suatu wilayah yg ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum,termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum yg mempunyai organisasi pemerintahan terendah,langsung di bawah camat, dan berhak melaksanakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa dinas atau desa, dikepalai seorang kepala desa. Desa dinas biasanya terdiri dari beberapa banjar atau sekarang dikenal dengan dusun. Dengan kondisi seperti digambarkan di atas, akhirnya dapat dijumpai satu desa pakraman terdiri dari satu desa dinas, ada satu desa pakraman terdiri dari beberapa desa dinas dan sebaliknya adat satu desa dinas terdiri dari beberapa desa pakraman.

Kelurahan adalah suatu wilayah yg ditempati oleh sejumlah penduduk yg mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat, yg tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri. Kelurahan dikepalai seorang lurah. Satu kelurahan terdiri dari beberapa lingkungan yang dikepalai seorang kepala lingkungan. Perlu ditambahkan bahwa apa yg sekarang dikenal dengan kelurahan dan desa dinas,umumnya berasal dari desa /keperbekelan, yang pada zaman dulu dipimpin seorang perbekel. Sedangkan banjar/dusum dikepalai seorang kelihan dinas/kepala dusun.

Leave a Comment :, more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...