Kayuselem

Pura

Pura Samuan Tiga di Bedulu Gianyar

by on Feb.21, 2014, under Pura

Pura Samuan Tiga
Jika menyisir keberadaan Bedulu dan Pura Samuan Tiga dari data teks tentang sejarah Bali masa lalu, Drs. I Wayan Patera, M.Hum, yang juga Klian Paruman Pura Samuan Tiga, dalam tulisannya tentang Pura Samuan Tiga mengutip lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul terutama pada bagian yang menguraikan tentang Samuantiga, sebagai berikut:

“….. ri masa ika hana malih kahyangan Samuantiga, ika maka cihna mwah genah i kang para Dewa-Dewata Bhatara-Bhatari mwah kang para Rsi ika makabehan paum duking masa ika, kang ingaranan pura Samuantiga ri mangke”
Artinya:
“….. pada masa itu ada lagi kahyangan (tempat suci) yang bernama kahyangan Samuantiga, itu sebagai tanda dan tempat dimana para Dewa dan Dewata, Bhatara-Bhatari dan lagi para Resi (pendeta) seluruhnya rapat (musyawarah) pada masa itu dinamai pura Samuatiga sampai sekarang”
(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Pura Luhur Pucak Taman Sari Senganan Penebel Tabanan

by on Oct.27, 2012, under Pura

Pancarkan Air Empat Warna

Pura Luhur Pucak Taman Sari,Linggih Ratu Ngurah Mas Meketel, sering dikunjungi orang-orang supranatural untuk melakukan semadhi memohon kedigjayaan dalam bidangnya. Oleh masyarakat sekitarnya diyakini sebagai kahyangan untuk memohon kemakmuran, hasil panen yang baik dan yang paling unik dikenal untuk melukat dengan empat air panas suci, di antaranya Toya emas, Selaka, Tembaga, Besi.

Reporter : Goesrai & IA. Sadnyari

Pura Luhur Pucak Taman Sari yang memiliki aura magis yang sangat kental tepatnya berada di wilayah Banjar Anyar, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Kuatnya aura spiritual yang dipancarkan tak lain karena keberadaan pura yang jauh dari keramaian, berada di tanah tegal yang tinggi rimbun seperti alas, dipagari pohon besar dikelilingi persawahan.

Dari pura ini seluruh daratan selatan tampak nyata apalagi pada waktu malam hari, lampu-lampu berkelap kelip, desiran angin, suara binatang malam membuat suasana pura semakin terasa angker hingga membuat bulu kuduk berdiri. Tidak salah kalau pura ini sering dikunjungi untuk melakukan tapa semadhi, karena di sinilah bagi mereka yang teguh pada pendiriannya untuk melakukan brata akan mencapai ketenangan.

Setelah ditelusuri ternyata Pura Luhur ini diempon oleh keturunan Pasek Kayu Selem. Menurut Pan Indra yang merupakan pemangku pura menuturkan kisah keberadaan Pura Luhur Pucak Taman Sari, dimulai dari leluhurnya yang sejak kecil mengabdi kepada Raja Tabanan, sebagai parekan sayang raja, kemudian setelah dewasa mohon pamit sebagai abdi akan kembali ke kampungnya mencari jodoh.

Karena sudah sekian lama menjadi abdi yang setia, kemudian raja mengumpulkan para selirnya, Ki Pasek dipersilahkan memilih salah satu selir raja. Dengan rasa canggung Ki Pasek memilh salah satu selir, ternyata selir tersebut sedang hamil.

(continue reading…)

1 Comment :, , more...

Tirtha Selaka di Pura Kereban Langit Sading

by on Aug.04, 2012, under Pura

Sebenarnya keinginan untuk tangkil sembahyang di Pura Kereban Langit Br. Pekandelan Desa Sading Mengwi Kab. Badung telah lama ada dalam hati. Bahkan, telah juga pernah disampaikan kepada teman sejawat yang senang lingkang-lingkung bersama. Namun apa mau dikata, keinginan tinggal keinginan yang belum juga kesampaian.

Hingga pada suatu ketika pada purnamaning sasih karo tanggal 2 Agustus 2012 yang lalu, Saya bersama teman-teman sejawat prasidha pedek tangkil ke Pura Kereban Langit ring Br. Pekandelan Sading.

Lokasi Pura Kereban Langit cukup mudah dicapai, yakni bisa dari arah Puspem Badung, maupun dari pertigaan jalan raya Anggungan-Darmasaba Kab.Badung. Jika dari arah Puspem Badung di Sempidi,  di pertigaan Patung Rama dan Hanuman kita bisa menyusuri jalan ke arah timur, menuju Sading, sampai di Br. Pekandelan, ada perempatan Jalan Gede Desa belok kiri (ke arah barat) terus sampai mentok di Jaba Pura. Akses jalan menuju Pura cukup baik, yaitu aspal walaupun lumayan sempit yaitu cukup satu kendaraan roda empat saja, sedangkan untuk papasan belum bisa.

Dari Areal parkir, terdapat undak-undak turun menuju Pura, dan menuju Pancoran di sebelah selatan Pura yang jalan masuknya dari sebelah barat tembok Pura yang berbatasan juga dengan Tukad Ulangun.

Karena baru pertama kali pedek tangkil, kami memutuskan untuk menghubungi Jero Mangku di Pura tersebut terlebih dahulu, yang kebetulan telah menyediakan nomor teleponnya untuk dihubungi di pintu masuk Pura sebelah utara. Setelah dihubungi, beliau segera akan datang dan dihimbau untuk melakukan penglukatan terlebih dahulu di pancoran sebelah selatan Pura.

Pancoran ini berupa dinding batu alam dengan kepala pancoran berupa mulut naga berjumlah lima yang mengeluarkan tirtha yang jernih dan menyegarkan. Atas petunjuk penjaga pancorannya, kami melakukan penglukatan/melukat dengan terlebih dahulu menghaturkan canang sari ke masing-masing sumber pancoran. Perasaan segar dan hening sangat terasa selesai melukat.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Pancaran Suci Pura Pusering Jagat Pejeng

by on Mar.24, 2012, under Pura

Pura yang termasuk ke dalam Sad Kahyangan di Bali ini letaknya di tengah-tengah Sad Kahyangan lainnya yaitu Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Uluwatu dan Pura Batukaru. Sesuai dengan letaknya yang di tengah-tengah, Pura ini merupakan pusatnya semesta atau pusatnya Bali. Pura ini terletak di Desa Pejeng yang dimasa lampau merupakan pusatnya Kerajaan Bali Kuna. Banyak pendapat yang menduga bahwa kata “Pejeng” berasal dari kata”Pajeng” yang berarti payung. Dari Desa Pejeng inilah para raja Bali Kuna memayungi rakyatnya dengan penuh kasih sayang dan cinta damai. Namun, ada juga yang menduga kata pejeng berasal dari kata pajang (bahasa Jawa Kuna) yang berarti sinar. Diyakini, dari sinilah sinar kecemerlangan dipancarkan ke seluruh jagat.

Ditemukan bahwa dalam lontar-lontar Kuna, Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Dibalik penamaan itu tentunya akan mengingatkan masyarakat Hindu pada cerita Adi Parwa yang banyak mengisahkan perjuangan para dewa dalam mencari tirta amertha (air kehidupan) di tengah lautan Ksirnawa.

Di pura ini banyak sekali terdapat arca yang menunjukkan bahwa Pura Pusering Jagat merupakan tempat pemujaan Siwa seperti Arca Ganesha (putera Siwa), Durga, juga arca-arca Bhairawa. Ada juga arca yang berbentuk unik karena menyerupai kelamin laki-laki (purusa) dan perempuan (pradana). Dalam konteks agama Hindu, keduanya yaitu Purusa dan Pradana ini merupakan yang pertama kali diciptakan Tuhan. Purusa merupakan benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana berupa benih-benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni. Di pura ini juga terdapat peninggalan kuno berbentuk bejana yang disebut sangku sudamala yang melambangkan limpahan air suci untuk kehidupan. Di dalam sangku sudamala ini terdapat gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , , , , more...

Pura Hulun Danu Batur di Songan

by on Oct.20, 2011, under Pura

Pura Hulundanu Batur di Songan merupakan salah satu dari Tri Kahyangan Jagat yang ada di Bali. Terletak di hulu Danau Batur (kaja kangin) atau lazim disebut Hulundanu Batur. Keberadaan Pura ini bisa ditelusuri melalui purana Pura Hulun Danu Batur di Songan.

”MANGKE nemuaken apan manira ngamertaning wong Bali kabeh, tan paran mapinunas mertha ring parhyangan nira ring Hulun Danu, ngawe gemuh ikang rat”. Itulah tertuang dalam kitab purana Pura Hulun Danu Batur di Songan.

Berdasarkan prakempa pura itu membuat krama Bali berbondong-bondong melakukan yadnya di pura yang berlokasi di bibir timur Danau Batur tersebut. Selain pengempon pura (warga Songan), krama Bali termasuk sejumlah pejabat (bupati) sudah ngayah di Pura Kahyangan Jagat itu sebelum upacara Bhatara Turun Kabeh pada 19 September lalu. Ketua Panitia Pemugaran, I Kadek Ardhi Negara, yang didampingi Dane Jro Gede Hulun Danu, mengatakan Ida Batara akan mesineb pada 29 September, tepatnya pada tengah malam. Pujawali dilaksakan setiap purnamaning Sasih Kapat.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Pura Tirtha Sudamala Bebalang Bangli

by on Oct.19, 2011, under Pura

Pura Tirta Sudamala terletak di Desa Bebalang Bangli. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota Bangli tepatnya kurang lebih 1km arah barat daya pusat kota Bangli. Jalan menuju ke Pura ini telah banyak ditandai dengan plang petunjuk ke arah Pura, jadi jangan khawatir tidak ketemu. Atau jika plang petunjuk tidak terlihat semisal berangkat pada sore hari atau malam hari, kita bisa menanyakan kepada masyarakat Desa Bebalang ke arah mana menuju Pura Tirtha Sudamala, yakinlah bahwa semua masyarakat disana akan memberi petunjuk yang benar tentang lokasi Pura tersebut.  Untuk mencapai lokasi Pura, harus melalui jalan yang cukup berliku dan kadang cukup curam dan sempit untuk dilalui kendaraan roda empat, tapi tidak perlu khawatir, karena kondisi jalannya cukup bagus.

Pura Tirta Sudamala, memiliki sejumlah pancuran dengan ukuran dan ketinggian berbeda kurang lebih terdapat sekitar 11 pancuran. Air pancuran berasal dari mata air di sekitar sebuah pohon bunut besar yang telah berusia ratusan tahun. Mata air ini tidak pernah kering, meskipun saat sedang musim kemarau.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Pura Masceti di pesisir Gianyar

by on Jul.16, 2011, under Pura


PURA Masceti berstatus Pura Kahyangan Jagat, kerap didatangi oleh umat dari sejebag jagat Bali. Pura Masceti yang terletak di tepian pantai Desa Medahan-Keramas, Blahbatuh, Gianyar, kerap menjadi tempat mencari keheningan jiwa. Pura suci yang berusia tua yang juga merupakan kisah tapak tilas Dhang Hyang Dwijendra ini ramai dikunjungi di saat hari suci umat Hindu. Setiap hari Purnama, Tilem, Siwaratri bahkan saat diselenggarakan piodalan pada Anggarkasih, Medangsia jejalan umat selalu memadati pura untuk melakukan persembahyangan.

Menurut Jero Mangku Pura Masceti, kata ”Masceti” terdiri atas dua suku kata, yakni Mas (sinar) dan Ceti (keluar masuk). Namun soal keberadaan Pura Masceti ini tidak satu pun orang mengetahui kapan pertama kali Pura Masceti dibangun. Meski tak ada prasasti, sebagai bukti tertulis akan keberadaan pura ini ada bukti purana yang sumbernya dari kumpulan data dari berbagai prasasti yang menyebutkan keberadaan pura tersebut.
Pura Masceti yang menjadi Pura Kahyangan Jagat ini juga berstatus sebagai Pura Swagina (profesi). Sebagai Pura Swagina, Pura Masceti bertalian erat dengan fungsi pura sebagai para petani untuk memohon keselamatan lahan pertanian mereka dari segala merana (penyakit).

Jero Mangku Pura Masceti mengatakan, keberadaan Pura Masceti berdasarkan Dwijendra Tatwa adalah kisah perjalanan suci tokoh rohaniwan dari tanah Jawa. Di sini disebutkan bahwa kisah perjalanan Danghyang Dwijendra, pada zaman Kerajaan Dalem Warturengong sekitar abad XIII.

Saat itu Dhanghyang Dwijendra meninggalkan Desa Mas, melewati Banjar Rangkan, Desa Guwang, Sukawati, menuju pantai selatan ke timur ke daerah Lebih. Saat melewati Pura Masceti, di tengah sejuknya angin pantai, Dhanghyang Dwijendra merasakan dan mencium bau harum semerbak yang menandakan adanya Dewa yang turun. Sebuah cahaya tampak terlihat dari dalam Pura Masceti.

Dhanghyang Dwijendra pun masuk ke dalam pura yang pada waktu itu pelinggihnya hanya berupa bebaturan (bebatuan). Di sana beliau serta merta melakukan persembahyangan, menyembah Tuhan. Namun pada saat itu tidak diperkenankan oleh Ida Batara Masceti, mengingat Dhanghyang Dwijendra sebentar lagi melakukan moksa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pura Masceti ini telah ada sebelum Dhanghyang Dwijendra datang ke Bali.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Pura Silayukti, Pura Tanjung Sari dan Telaga Mas Padangbai

by on Jul.06, 2011, under Pura


Pura Silayukti terletak di ujung selatan Gunung Luhur Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Di sebalah selatan membentang laut yang memisahkan antara pulau Bali dengan Nusa Penida. Di sebelah utara berdiri Gunung Luhur. Di sebelah barat teluk Padangbai (Pelabuhan Padangbai). Di sebelah timur Teluk Labuhan Amuk. Pura itu didirikan di atas tanah datar dan menjorok ke laut, menghadap ke selatan.

Untuk mencapai pura itu sudah mudah, karena jalan menuju halaman pura sudah bagus. Namun jika memakai bis besar dan banyak rombongan, sebaiknya parkir di depan sekolah dasar Padangbai dan dari sana perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 400 meter. Pura itu terletak pada ketinggian sekitar 50 meter dari permukaan laut.

Sejarah Pura

Sejarah Pura Silayukti ada disebutkan dalam lontar yaitu :

1. Babad Bendesa Mas. Di dalam lontar ini ada disebutkan: “Tusapa kalah ikang Mayadanawa, cinarita sira sang apuspatha Empu Kuturan, hawelas ring tan hananing ratu, rumaksa tang Bali rajya, saksana turun pwa saking Jawadwipa Mandala, sirajumeneng ratu ring Bali, asrama ring padang Silayukti, irika dewataraka nira Empu Kuturan”. Artinya: Tersebutlah kalahnya Mayadanawa, diceritakanlah beliau yang bergelar Empu Kuturan, beliau kasihan karena tidak adanya raja di Bali, dijaganyalah oleh beliau keraton Bali, maka segeralah beliau datang dari Pulau Jawa, beliau menjabat sebagai raja di Bali, beliau membangun wisma di Silayukti Padang.

2. Dwijendra Tatwa

Di dalam lontar ini disebutkan antara lain: “Tan warnanan ring hawan, dhatang ta sireng Gelgel, lumaris si ring Padang, apan sang prabu sireng padang; wus prapteng Padang sendhu ta sira £ri Waturenggong ling haji, “malah twa pwa kita penyarikan, hangliwari kita semaya, kaya dede selahing wwang atuha, si kita penyarikan dunungan ta sang wawu rawuh ring parhyangan pangastawan ira Empu Kuturan nguni.” Artinya: Tidak diceritakan di dalam perjalanan, datanglah beliau (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) di Gelgel lalu menuju Padang, karena sang raja berada di Padang, setelah tiba di Padang Dalem Baturenggong menjadi mangkel, katanya: “Padahal sudah tua kamu penyarikan, kamu melewatijanji, bukan seperti orangtua kamu berbuat, hai kamu penyarikan istirahatkan beliau yang bam datang itu di palinggih bekas wisma Empu Kuturan dahulu.”

Di dalam rontal Calonarang ada disebutkan bahwa Empu Kuturan yaitu kakak dari Empu Beradah bertapa di Silayukti Pulau Bali. Di dalam rontal Calonarang itulah disebutkan kedatangan Empu Beradah ke Bali sebagai utusan dari raja Airlangga untuk menobatkan salah seorang putranya menjadi raja di Bali. Permintaan Airlangga itu ditolak oleh Empu Kuturan. Di dalam prasasti Pura Kehen B, ada disebutkan, “mpi(ng) hyang Padang sangscaryya netra.” Pada beberapa prasasti Bali Kuna “type punah”, terdapat kata “Senapati Kuturan” seperti yang terdapat dalam Prasasti Pura Desa Gobleg 1037 Q yaitu, “…senapati Kuturan pu caken…” Prasasti Cempaga A 1103 Ç menyebutkan: “senapati Kuturan makakasir dalang capek…” Atas dasar data-data tersebut di atas, maka disimpulkan, bahwa Empu Kuturan datang ke Bali dari Jawa Timur diperkirakan sekitar tahun 1039 M yaitu pada masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur, sebagaimana disebutkan dalam lontar Calonarang.

Berdasarkan Prasasti Calcuta (1042), bahwa Airlangga dinobatkan menjadi raja di Jawa Timur pada tahun 1019 M. la memerintah dari tahun 1019-tahun 1042 dan wafat tahun 1049. Pada tahun 1041 Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua untuk kedua orang putranya. Pembagian itu dilakukan oleh Empu Beradah yaitu adik dari Empu Kuturan, sebagaimana disebutkan di dalam Nagarakrtagama.

Empu Beradah datang ke Bali pada tahun 1041 sebagaimana disebutkan di dalam prasasti Batumadeg. Untuk menemui Empu Kuturan di Silayukti, beliau datang ke Bali sebagai utusan raja Airlangga. Empu Beradah minta kepada Empu Kuturan agar salah sorang putra Airlangga dinobatkan menjadi raja di Bali. Permohonan itu ditolak Empu Kuturan. Demikian dalam lontar Calonarang disebutkan.

(continue reading…)

1 Comment :, , , , , , , more...

Pura Ponjok Batu dalam perjalanan DangHyang Nirartha

by on Jun.08, 2011, under Pura

Dalam bahasa Bali “Ponjok Batu” berarti Tanjung Batu. Lingkungan Pura ini merupakan lingkungan Pura tempat pemujaan/persembahyangan umum untuk mohon keselamatan. Dari depan lingkungan pura yang dibatasi jalan raya meuju Amlapura terlihat pemandangan Laut Jawa yang terbentang luas yang dapat menimbulkan ketenangan jiwa dan menumbuhkan inspirasi bagi pengunjungnya. Laut yang tenang yang ditumbuhi beberapa pohon tua di sekitar bukit menambah keindahan lokasi dan penduduk setempat memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari.

Lokasi Lingkungan Pura Ponjok Batu ini terletak lebih kurang 24 km di sebelah Timur Singaraja, terletak di pantai Utara pulau Bali, termasuk wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.

Karena merupakan tempat persembahyangan umum, maka setiap odalan lingkungan pura ini banyak dikunjungi oleh pengunjung dari luar daerah Buleleng dan khususnya masyarakat setempat. Disamping karena keindahan alam, arsitektur lingkungan pura juga mencerminkan gaya khas yaitu seluruh bangunan terbuat dari susuban batu-batu alam yang terdapat di sekitar lokasi sangat menarik wisatawan. Sampai saat ini cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah ini, terutama para wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke obyek-obyek wisata yang ada di sebelah Timur Kabupaten Buleleng. Seperti Desa Sembiran,tarian sakral wayang wong dan dalam perjalanan menuju Karangasem.

Asal muasal berdirinya Pura atau Kahyangan ini erat hubungannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha yang juga dikenal dengan sebutan Danghyang Dwijendra, di dalam Dwijendra Tattwa antara lain dikisahkan sebagai berikut : Pada zaman pemerintahan Dalem Gelgel Sri Waturenggong, sekitar tahun Isaka 1411 atau tahun 1489 M datanglah di Bali Danghyang Nirartha yang kemudian dikenal dengan sebutan Danghyang Dwijendra.

Setelah beberapa lama beliau tinggal di Gelgel, maka pada suatu hari Danghyang Nirartha ingin meninjau daerah Bali di sebelah Utara Gunung (Den Bukit) yaitu Buleleng, yang seterusnya kalau tidak ada aral melintang beliau berniat akan terus menyeberang ke Sasak (Lombok). Sesudah beliau berjalan beberapa hari lamanya kemudian Danghyang Nirartha sampai pada suatu tempat di Pantai Utara Pulau Bali yang letaknya di sebelah barat laut Gunung Agung. Tempat itu berupa sebuah Tanjung yang terdiri dari batu batu, dan dari celah-celah batu tersebut tumbuh kayu-kayuan sehingga Tanjung Batu tersebut menjadi semak-semak. Di sana Danghyang Nirartha berhenti dan duduk di atas batu pada tempat yang agak tinggi untuk menikmati pemandangan laut Jawa yang terhampar luas yang sangat mengasyikkan dan menumbuhkan inspirasi baginya.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Pura Lempuyang Luhur

by on May.21, 2011, under Pura

Lokasi

Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu. Kendaraan bermotor maupun dengan sepeda hanya bisa sampai di desa Ngis, kemudian berjalan kaki menuju desa Purahayu dan selanjutnya berjalan diatas bukit menuju Pura yang berada di puncak bukit Bisbis. Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 3 jam itu cukup berat dan memayahkan, karena kadang-kadang menemui jalan yang sempit dan berjurang terjal, serta meanjak terus. Namun kepayahan itu dapat diimbali dengan indahnya panorama yang dapat dinikmati dari atas bukit selama pendakian itu. Lebih-lebih dari puncak Lempuyang pemandangan ke arah utara sangat indah, kelihatan pantai Amed dan desa Culik, ke Timur Gunung Seraya, ke Selatan kota AmlaPura, Candi Dasa, Padangbai dengan lautnya yang membiru dan ke Barat kelihatan desa-desa yang berada di bawah seperti Desa Ngis, Basang alas, Megatiga serta Gunung Agung yang nampak indah. Pura Lempuyang Luhur termasuk Pura Sad Kahyangan di Bali (Menurut Lontar Widisastra) yang juga merupakan kahyangan jagat yang termasuk salah satu dari “Pura-Pura” delapan penjuru angin di Pulau Bali.

(continue reading…)

4 Comments :, , more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...