Kayuselem

Kitab Suci

Sanggah Pamerajan

by on Jun.15, 2013, under Kitab Suci

sanggah1      sanggah2

Jika kita amati Sanggah Pamerajan yang ada khususnya di Pulau Bali, kita akan menemukan susunan pelinggih yang berbeda-beda. Hal ini tentu tidak terjadi secara kebetulan atau merupakan suatu kesalahan. Semuanya tentu berdasar, dan seiring waktu hal ini wajib kita pahami sebagai generasi penerus dan dilanjutkan oleh anak dan cucu kita. Pengertian ini penting untuk diketahui agar terjadi pemahaman akan perbedaan yang ada sehingga Agama Hindu tidak dipecahbelah oleh ketidaktahuan kita.

Berikut  penjelasan mengenai pelinggih yang ada di Sanggah Pamerajan, serta sejarahnya mengapa Sanggah Pamerajan kita berbeda-beda. Banyak Saudara kita yang tidak mau ikut bersembahyang di Sanggah Pamerajan karena konsep yang ada dalam pikiran mereka berbeda tentang Sanggah Pamerajan. “Apakah saya benar menyembah leluhur mereka?” atau “Tidak ada Padmasana di Sanggahmu, keluarga saya tidak boleh sembahyang jika tidak ada Padmasana” dan lain sebagainya.

(continue reading…)

2 Comments more...

Sikap Amustikarana dalam ber TriSandya

by on Aug.01, 2012, under Buah Pikiran, Kitab Suci

Saat kita umat Hindu melakukan Puja Tri Sandya, sikap tangan kita adalah amustikarana. Apakah Amustikarana itu? Sikap amustikarana adalah sikap saat tangan kanan mengepal dibungkus oleh tangan kiri yang masing-masing ibu jarinya bertemu dan ujung-ujungnya mengarah ke atas yang kemudian ditempatkan di depan hulu hati. Bentuk amustikarana ini memberikan makna dasendrya, yaitu bahwa kelima indera (panca karma indria) dan kelima panca budhi indria mendorong manah (pikiran) ke atas, maksudnya menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Adapun penempatan amustikarana di depan hulu hati, penjelasannya sebagai berikut :

Setiap manusia mempunyai tulang punggung yang membujur dari pangkal tulang ekor sampai ke pangkal kepala. Sepanjang tulang punggung sampai di ubun-ubun terdapat cakra-cakra utama yang merupakan pusat masuknya energi ilahi atau energi alam semesta atau prana. Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat ratusan cakra, baik berupa cakra utama, cakra mayor, maupun cakra minor. Dalam kaitan dengan pertanyaan di atas, di sini hanya akan disebutkan tentang tujuh cakra utama yang terdapat di sepanjang tulang punggung sampai kepala. Cakra-cakra tersebut berbentuk kerucut, dengan pangkalnya yang runcing berada di sepanjang tulang punggung sampai kepala.

(continue reading…)

1 Comment :, , more...

Penggunaan Pawukon di Bali

by on Jul.26, 2012, under Adat, Kitab Suci

Dalam setiap kesempatan yang berhubungan dengan hari baik (biasanya dalam melakukan upacara baik dewa yadnya,manusa yadnya,pitra yadnya,rsi yadnya dan bhuta yadnya, termasuk dalam segi kehidupan sesuai swadharmanya masing-masing), umat Hindu di Bali khususnya selalu berpedoman pada yang namanya padewasan. Salah satu pakem yang menjadi padewasan adalah sistem pawukon yang mirip pengucapannya seperti sistem pawukon di Pulau Jawa. Adapun sejarahnya di Bali seperti dituturkan Ida Bhagawan Dwija sebagai berikut :

Sekitar 1000 tahun sebelum Masehi, Maha Rsi Garga, Maha Rsi Bhaskaracarya, Maha Rsi Waramihira, dan Maha Rsi Sundareswarasrauti, menulis apa yang zaman sekarang disebut sebagai Astronomi dan Astrologi; ilmu itu diperoleh dari penglihatan dan Sabda Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Kenyataan yang nampak bahwa pertama-tama ada hari siang dan ada hari malam; lalu ada pergerakan/ peredaran matahari, bulan, bintang terus menerus sepanjang masa. Mulailah manusia mengenal batasan-batasan waktu yang diperhitungkan menurut hari siang/ malam, timbulnya bulan purnama dan bulan gelap, lalu berpengaruh ke musim: panas, hujan, dingin, dsb.

Siklus itu menjadi ukuran waktu minggu, bulan, dan tahun ditulis dalam kitab suci Jyotisa yang tergolong Kitab Suci Wedangga; wedangga berarti “bagian-bagian” yakni alat bantu untuk mempelajari Weda.

Di dalam kitab Jyotisa ditulis nama-nama wuku (mingguan) yang diambil dari nama Raja-raja, Dewa-dewa, dan Planet-planet, yaitu: Sinta s/d Watugunung. Setelah melaksanakan anumana pramana dan mendapat pawisik Ida Sanghyang Widi Wasa, para Maha Rsi tersebut menulis pula dauh/ hari/ wuku yang baik dan buruk untuk tiap-tiap kegiatan, berdasarkan pengaruh letak bintang, garis edar bulan-matahari, dan posisi planet-planet yang lain. Ini dinamakan “dewasa” dan kumpulan dewasa disebutkan dalam “wariga”.

Lontar-lontar wariga di Bali banyak, dan para Pandita tidak selalu berpegang pada lontar yang sama. Lontar tertua yang populer digunakan sekarang berasal dari Rsi Markandeya yang disebarkan di Bali pada tahun 989 (Masehi) di zaman pemerintahan Raja: Sri Ratu Gunapriya Dharmapatni bersama suaminya Dharma Udayana Warmadewa.

Sosialisasi lontar itu pertama kali dilakukan oleh para Mpu yang menjadi Bhagawanta Kerajaan (sekarang disebut Bali-Aga) yakni yang menurunkan para warga Pasek Kayu Selem.

adapun ke-30 (tigapuluh) wuku-wuku tersebut dan bhatara yang menyertainya (lamanya masing-masing wuku adalah satu minggu mulai hari minggu-sabtu) adalah sebagai berikut :

istilah di Jawa, Bali ==>

  1. Sinta – Batara Yama
  2. Landep – Batara Mahadewa
  3. Wukir, Ukir – Batara Mahayakti
  4. Kurantil, Kulantir – Batara Langsur
  5. Tolu, Tulu – Batara Bayu
  6. Gumbreg – Batara Candra
  7. Wariga alit, Wariga – Batara Asmara
  8. Wariga agung, Warigadian – Batara Maharesi
  9. Julangwangi, Julungwangi – Batara Sambu
  10. Sungsang – Batara Gana Ganesa
  11. Galungan, Dungulan – Batara Kamajaya
  12. Kuningan – Batara Indra.
  13. Langkir – Batara Kala
  14. Mandasiya, Medangsia – Batara Brahma
  15. Julung pujut, Pujut – Batara Guritna
  16. Pahang- Batara Tantra
  17. Kuru welut, Krulut – Batara Wisnu
  18. Marakeh, Merakih – Batara Suranggana
  19. Tambir – Batara Siwa
  20. Medangkungan – Batara Basuki
  21. Maktal – Batara Sakri
  22. Wuye, Uye – Batara Kowera
  23. Manahil, Menail – Batara Citragotra
  24. Prangbakat – Batara Bisma
  25. Bala – Batara Durga
  26. Wugu. Ugu – Batara Singajanma
  27. Wayang – Batara Sri
  28. Kulawu, Kelawu – Batara Sadana
  29. Dukut – Batara Sakri. Jika jatuh hari Anggara Kasih, Selasa Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa.
  30. Watu gunung – Batara Anantaboga. Dalam minggu ini jatuh hari Jumat Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa dan hari Saraswati yang dianggap suci oleh orang Bali.
Leave a Comment more...

Hari Raya Pagerwesi

by on Jun.19, 2012, under Kitab Suci

Hari raya Pagerwesi jatuh pada hari Budha Keliwon Wuku Sinta. Dalam kalender hari suci di Bali, hari ini adalah hari ke 5 dari serangkaian hari raya penting, yaitu

Hari 1 Hari raya Saraswati Sabtu Saniscara Umanis Watugunung

Hari 2 Hari raya Banyu Pinaruh Minggu Redite Paing Sinta

Hari 3 Hari raya Soma Ribek Senin Soma Pon Sinta

Hari 4 Hari raya Sabuh Mas Selasa Anggara Wage Sinta

Hari 5 Hari raya Pagerwesi Rabu Buda Keliwon Sinta

Hari ini adalah payogan Hyang Pramesti Guru, disertai para Dewa dan Pitara, demi kesejahteraan dunia dengan segala isinya dan demi sentosanya kehidupan semua makhluk.

Pada saat itu umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha.

Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata yang sedang melakukan yoga. Menurut pengider-ideran Panca Dewata itu ialah:

1 Sanghyang Içwara berkedudukan di Timur

2 Sanghyang Brahma berkedudukan di Selatan

3 Sanghyang Mahadewa berkedudukan di Barat

4 Sanghyang Wisnu berkedudukan di Utara

5 Sanghyang Çiwa berkedudukan di tengah

(continue reading…)

Leave a Comment : more...

Rerahinan Umat Hindu Bali bulan Maret 2012

by on Mar.01, 2012, under Kitab Suci

07-03-2012. Buda Keliwon Pegatuwakan. Hari ini menghaturkan sesaji kehadapan Shang Hyang Widi, sebagai tanda puji syukur atas kemurahan beliau melimpahkan rahmatNya sehingga hari raya Galungan dan Kuningan berjalan dengan selamat.

07-03-2012. Purnama.

12-03-2012. Kajeng Keliwon Uwudan.

17-03-2012. Tumpek Krulut. Menghaturkan sesaji kepada Ida Sang Hyang Widi / Bhatara Iswara di Sanggah Kemulan, mohon keselamatan.

21-03-2012. Buda Wage Merakih. Pemujaan kehadapan Bhatara Rambut Sedana yang disebut juga Sang Hyang Rambut Kadhala.

22-03-2012. Tilem.

23-03-2012. Hari Bhatara Sri.

23-03-2012. Hari Raya Nyepi. Hari ini melakukan catur brata penyepian dan meditasi

24-03-2012. Ngembak Geni.

27-03-2012. Anggar Kasih Tambir.

Leave a Comment : more...

Rentetan rahinan Galungan – Kuningan di Bali

by on Jul.04, 2011, under Kitab Suci

TUMPEK WARIGA

Jatuh pada hari Saniscara, Kliwon, Wuku Wariga, atau 25 hari sebelum Galungan. Upacara ngerasakin dan ngatagin dilaksanakan untuk memuja Bhatara Sangkara, manifestasi Hyang Widhi, memohon kesuburan tanaman yang berguna bagi kehidupan manusia.

ANGGARA KASIH JULUNGWANGI

Hari Anggara, Kliwon, Wuku Julungwangi atau 15 hari sebelum Galungan. Upacara memberi lelabaan kepada watek Butha dengan mecaru alit di Sanggah pamerajan dan Pura, serta mengadakan pembersihan area menjelang tibanya hari Galungan.

BUDA PON SUNGSANG

Hari Buda, Pon, Wuku Sungsang atau 7 hari sebelum Galungan. Disebut pula sebagai hari Sugian Pengenten yaitu mulainya Nguncal Balung. Nguncal artinya melepas atau membuang, balung artinya tulang; secara filosofis berarti melepas atau membuang segala kekuatan yang bersifat negatif (adharma). Oleh karena itu disebut juga sebagai Sugian Pengenten, artinya ngentenin (mengingatkan) agar manusia selalu waspada pada godaan-godaan adharma. Pada masa nguncal balung yang berlangsung selama 42 hari (sampai Buda Kliwon Paang) adalah dewasa tidak baik untuk: membangun rumah, tempat suci, membeli ternak peliharaan, dan pawiwahan.

SUGIAN JAWA Hari Wraspati, Wage, Wuku Sungsang, atau 6 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian dan kelestarian Bhuwana Agung (alam semesta).

SUGIAN BALI Hari Sukra, Kliwon, Wuku Sungsang, atau 5 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian, dan keselamatan Bhuwana Alit (diri sendiri).

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Rerahinan Umat Hindu Bali Bulan Juli 2011

by on Jul.01, 2011, under Kitab Suci

1 Juli 2011. Sugihan Bali. Manusia hendaknya memohon kesucian, pembersihan lahir batin kehadapan semua Bhatara. Menghaturkan pengeresikan serta runtutannya di merajan/paibon.

3 Juli 2011. Hari Penyekeban. Pada hari ini sebaiknya waspada dan hati-hati serta menguatkan iman agar tidak tergoda, kena pengaruh Sang Bhuta Galungan. Penyekeban berarti berusaha untuk menguasai/mengendalikan diri.

4 Juli 2011. Penyajaan Galungan. Perlu berhati-hati dan mawas diri karena adanya pengaruh dari Sang Bhuta Dunggulan.

5 Juli 2011. Penampahan Galungan. Pada hari ini dikuasai oleh Sang Bhuta Amengkurat. Oleh karenanya setelah matahari terbenam dialakukan upacara biakala (mabiakala) agar tetap terhindar dari pengaruh Kala Tiganing Galungan yang dilakukan di halaman rumah. Saat ini juga dipasang penjor lengkap dengan segala hiasannya.

6 Juli 2011. Hari Raya Galungan. Hari ini merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma. Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widi dan Dewa/Bhatara dengan segala manifestasinya sebagai tanda puji syukur atas rahmatnya serta untuk keselamatan selanjutnya. Sedangkan penjor yang dipasang di muka tiap-tiap perumahan merupakan persembahan kehadapan Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung.

7 Juli 2011. Manis Galungan. Melakukan upacara nganyarin/penyucian di merajan/sanggah kemulan yang ditujukan kehadapan Hyang Kawitan dan Leluhur.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Rerahinan Umat Hindu Bali di bulan Juni 2011

by on Jun.10, 2011, under Kitab Suci

Pada bulan Juni 2011  ini, terdapat lumayan banyak rerahinan umat Hindu Bali, walaupun belum menyajikan tuntas Hari Raya Galungan, namun rentetan hari besar dan suci bagi umat Hindu tersebut sudah dimulai pada akhir bulan ini yaitu diantaranya hari Sugihan. Secara lengkap rahinan di bulan Juni 2011 adalah sebagai berikut :

1 Juni 2011. Buda Keliwon Gumbreg.

1 Juni 2011. Tilem.

11 Juni 2011. Tumpek Uduh/Pengatag/Pengarah/Bubuh. Hari ini merupakan peringatan “Kemakmuran’

13 Juni 2011. Soma Paing Warigadean. Memuja Ida Sang Hyang Widi/Bhatara Brahma dan menghaturkan sesaji di merajan/sanggah kemulan.

15 Juni 2011. Buda Wage Warigadean.

15 Juni 2011. Purnama.

16 Juni 2011. Kajeng Keliwon Uwudan.

17 Juni 2011. Hari Bhatara Sri.

21 Juni 2011. Anggar Kasih Julungwangi. Hari ini juga disebut Anggar Kasih Penguduhan yang bertujuan untuk memulai mengadakan pembersihan pada tiap-tiap Parhyangan dalam rangka menyambut hari raya Galungan.

30 Juni 2011. Sugihan Jawa. Pada hari ini juga disebut Parerebon, turunlah semua Bhatara ke dunia. Mengaturkan pengeresikan dab canang raka di merajan/paibon.

30 Juni 2011. Tilem.

Ingat rahinan atau hari baik, ingat sembahyang…

Leave a Comment :, , , more...

Bhagawadgita Sloka 39 dan 41 (Bab I)

by on Jun.01, 2011, under Kitab Suci

39. Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk menjauhi dosa semacam ini, wahai Kreshna – bukankah kita melihat kesalahan ini akan mengakibatkan kehancuran keluarga kita?

Arjuna masih menilai bahwa sesuatu kewajiban harus dilaksanakan dengan memikirkan imbalan yang duniawi sifatnya. Sedangkan dharma yang sejati tidak menuntut apa-apa. Dharma harus ditegakkan demi Yang Maha Kuasa, dan apapun yang diberikanNya sesudah itu, baik yang menyenangkan untuk kita atau yang membuat kita menderita karenanya, haruslah diterima sebagai pemberianNya. Dan itu harus ihlas, tanpa pamrih. Semua dharma kita adalah kewajiban dan persembahan kita kepadaNya, bahkan harus penuh dengan tanggung-jawab yang tulus kepadaNya bukan kepada kehendak unsur-unsur duniawi yang banyak terdapat disekitar kita, yang kalau dihitung seakan-akan tiada habisnya.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Arti Swastika sebagai lambang Agama Hindu

by on May.22, 2011, under Kitab Suci

Swastika merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi atau milik sebuah bangsa atau kepercayaan tertentu. Diyakini sebagai salah satu simbol tertua di dunia, telah ada sekitar 4000 tahun lalu (berdasarkan temuan pada makam di Aladja-hoyuk, Turki), berbagai variasi Swastika dapat ditemukan pada tinggalan-tinggalan arkeologis ( koin, keramik, senjata, perhiasan atau pun altar keagamaan) yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas. Wilayah geografis tersebut mencakup Turki, Yunani, Kreta, Cyprus, Italia, Persia, Mesir, Babilonia, Mesopotamia, India, Tibet, China, Jepang, negara-negara Skandinavia dan Slavia, Jerman hingga Amerika. Budha mengambil swastika untuk menunjukkan identitas Arya.

Makna simbul Swastika adalah Catur Dharma yaitu empat macam tugas yang patut kita Dharma baktikan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk umum (selamat, bahagia dan sejahtra) yaitu: 1. Dharma Kriya = Melaksanakan swadharma dengan tekun dan penuh rasa tanggung jawab 2. Dharma Santosa = Berusaha mencari kedamaian lahir dan bathin pada diri sendiri. 3. Dharma Jati=Tugas yang harus dilaksanakan untuk menjamin kesejahtraan dan ketenangan keluarga dan juga untuk umum 4. Dharma Putus=Melaksanakan kewajiban dengan penuh keikhlasan berkorban serta rasa tanggung jawab demi terwujudnya keadilan social bagi umat manusia. Makna yang lebih dalam yaitu Empat Tujuan Hidup yaitu Catur Purusartha / Catur Warga: Dharma, Kama, Artha, Moksa.

(continue reading…)

Leave a Comment :, more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...