Kayuselem

Lalintih Sang Catur Sanak Bali, Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, Kaywan Balingkang, lan Warga Bali Aga

by on Feb.02, 2013, under Buah Pikiran

Buku terbitan Yayasan Tan Mukti Palapa yang ditulis oleh Prof.Dr.Drs. I Ketut Riana,SU atau Jro Mangku Ulun Sari Les Tejakula Buleleng ini berisi tentang penelusuran sejarah keluarga Pasek Kayuselem berdasarkan atas Lontar/Babad asli yang ditulis oleh Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh dengan persetujuan Dalem Samprangan yang ditulis ulang sama persis dengan aslinya.

Oleh Jro Mangku Ulun Sari diterjemahkan secara ilmiah menggunakan berbagai referensi yang ada, mengenai asal-usul dan perjalanan sebuah keluarga/clan Pasek Kayuselem yang muncul di Batur kemudian menyebar ke seluruh pelosok pulau Bali. Tulisan pada buku ini juga menjelaskan dengan terang benderang kerancuan tentang kelahiran sebuah keluarga bali Sang Catur Sanak Bali, tentang silsilah dan perjalanannya.

Semoga buku ini menjadi lentera pencerahan bagi kita semua khususnya pratisentana Ida Betara Kawitan, dan menjadikan kita semakin eling ring Kawitan dan menjalankan swadharma kita dengan sebaik-baiknya.

Buku ini telah beredar di Toko-toko buku di Denpasar, bagi yang berminat silahkan dicari dan dibaca.

 

2 Comments :, , more...

Pura Luhur Pucak Taman Sari Senganan Penebel Tabanan

by on Oct.27, 2012, under Pura

Pancarkan Air Empat Warna

Pura Luhur Pucak Taman Sari,Linggih Ratu Ngurah Mas Meketel, sering dikunjungi orang-orang supranatural untuk melakukan semadhi memohon kedigjayaan dalam bidangnya. Oleh masyarakat sekitarnya diyakini sebagai kahyangan untuk memohon kemakmuran, hasil panen yang baik dan yang paling unik dikenal untuk melukat dengan empat air panas suci, di antaranya Toya emas, Selaka, Tembaga, Besi.

Reporter : Goesrai & IA. Sadnyari

Pura Luhur Pucak Taman Sari yang memiliki aura magis yang sangat kental tepatnya berada di wilayah Banjar Anyar, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Kuatnya aura spiritual yang dipancarkan tak lain karena keberadaan pura yang jauh dari keramaian, berada di tanah tegal yang tinggi rimbun seperti alas, dipagari pohon besar dikelilingi persawahan.

Dari pura ini seluruh daratan selatan tampak nyata apalagi pada waktu malam hari, lampu-lampu berkelap kelip, desiran angin, suara binatang malam membuat suasana pura semakin terasa angker hingga membuat bulu kuduk berdiri. Tidak salah kalau pura ini sering dikunjungi untuk melakukan tapa semadhi, karena di sinilah bagi mereka yang teguh pada pendiriannya untuk melakukan brata akan mencapai ketenangan.

Setelah ditelusuri ternyata Pura Luhur ini diempon oleh keturunan Pasek Kayu Selem. Menurut Pan Indra yang merupakan pemangku pura menuturkan kisah keberadaan Pura Luhur Pucak Taman Sari, dimulai dari leluhurnya yang sejak kecil mengabdi kepada Raja Tabanan, sebagai parekan sayang raja, kemudian setelah dewasa mohon pamit sebagai abdi akan kembali ke kampungnya mencari jodoh.

Karena sudah sekian lama menjadi abdi yang setia, kemudian raja mengumpulkan para selirnya, Ki Pasek dipersilahkan memilih salah satu selir raja. Dengan rasa canggung Ki Pasek memilh salah satu selir, ternyata selir tersebut sedang hamil.

(continue reading…)

1 Comment :, , more...

Tirtha Selaka di Pura Kereban Langit Sading

by on Aug.04, 2012, under Pura

Sebenarnya keinginan untuk tangkil sembahyang di Pura Kereban Langit Br. Pekandelan Desa Sading Mengwi Kab. Badung telah lama ada dalam hati. Bahkan, telah juga pernah disampaikan kepada teman sejawat yang senang lingkang-lingkung bersama. Namun apa mau dikata, keinginan tinggal keinginan yang belum juga kesampaian.

Hingga pada suatu ketika pada purnamaning sasih karo tanggal 2 Agustus 2012 yang lalu, Saya bersama teman-teman sejawat prasidha pedek tangkil ke Pura Kereban Langit ring Br. Pekandelan Sading.

Lokasi Pura Kereban Langit cukup mudah dicapai, yakni bisa dari arah Puspem Badung, maupun dari pertigaan jalan raya Anggungan-Darmasaba Kab.Badung. Jika dari arah Puspem Badung di Sempidi,  di pertigaan Patung Rama dan Hanuman kita bisa menyusuri jalan ke arah timur, menuju Sading, sampai di Br. Pekandelan, ada perempatan Jalan Gede Desa belok kiri (ke arah barat) terus sampai mentok di Jaba Pura. Akses jalan menuju Pura cukup baik, yaitu aspal walaupun lumayan sempit yaitu cukup satu kendaraan roda empat saja, sedangkan untuk papasan belum bisa.

Dari Areal parkir, terdapat undak-undak turun menuju Pura, dan menuju Pancoran di sebelah selatan Pura yang jalan masuknya dari sebelah barat tembok Pura yang berbatasan juga dengan Tukad Ulangun.

Karena baru pertama kali pedek tangkil, kami memutuskan untuk menghubungi Jero Mangku di Pura tersebut terlebih dahulu, yang kebetulan telah menyediakan nomor teleponnya untuk dihubungi di pintu masuk Pura sebelah utara. Setelah dihubungi, beliau segera akan datang dan dihimbau untuk melakukan penglukatan terlebih dahulu di pancoran sebelah selatan Pura.

Pancoran ini berupa dinding batu alam dengan kepala pancoran berupa mulut naga berjumlah lima yang mengeluarkan tirtha yang jernih dan menyegarkan. Atas petunjuk penjaga pancorannya, kami melakukan penglukatan/melukat dengan terlebih dahulu menghaturkan canang sari ke masing-masing sumber pancoran. Perasaan segar dan hening sangat terasa selesai melukat.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Sikap Amustikarana dalam ber TriSandya

by on Aug.01, 2012, under Buah Pikiran, Kitab Suci

Saat kita umat Hindu melakukan Puja Tri Sandya, sikap tangan kita adalah amustikarana. Apakah Amustikarana itu? Sikap amustikarana adalah sikap saat tangan kanan mengepal dibungkus oleh tangan kiri yang masing-masing ibu jarinya bertemu dan ujung-ujungnya mengarah ke atas yang kemudian ditempatkan di depan hulu hati. Bentuk amustikarana ini memberikan makna dasendrya, yaitu bahwa kelima indera (panca karma indria) dan kelima panca budhi indria mendorong manah (pikiran) ke atas, maksudnya menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Adapun penempatan amustikarana di depan hulu hati, penjelasannya sebagai berikut :

Setiap manusia mempunyai tulang punggung yang membujur dari pangkal tulang ekor sampai ke pangkal kepala. Sepanjang tulang punggung sampai di ubun-ubun terdapat cakra-cakra utama yang merupakan pusat masuknya energi ilahi atau energi alam semesta atau prana. Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat ratusan cakra, baik berupa cakra utama, cakra mayor, maupun cakra minor. Dalam kaitan dengan pertanyaan di atas, di sini hanya akan disebutkan tentang tujuh cakra utama yang terdapat di sepanjang tulang punggung sampai kepala. Cakra-cakra tersebut berbentuk kerucut, dengan pangkalnya yang runcing berada di sepanjang tulang punggung sampai kepala.

(continue reading…)

1 Comment :, , more...

Penggunaan Pawukon di Bali

by on Jul.26, 2012, under Adat, Kitab Suci

Dalam setiap kesempatan yang berhubungan dengan hari baik (biasanya dalam melakukan upacara baik dewa yadnya,manusa yadnya,pitra yadnya,rsi yadnya dan bhuta yadnya, termasuk dalam segi kehidupan sesuai swadharmanya masing-masing), umat Hindu di Bali khususnya selalu berpedoman pada yang namanya padewasan. Salah satu pakem yang menjadi padewasan adalah sistem pawukon yang mirip pengucapannya seperti sistem pawukon di Pulau Jawa. Adapun sejarahnya di Bali seperti dituturkan Ida Bhagawan Dwija sebagai berikut :

Sekitar 1000 tahun sebelum Masehi, Maha Rsi Garga, Maha Rsi Bhaskaracarya, Maha Rsi Waramihira, dan Maha Rsi Sundareswarasrauti, menulis apa yang zaman sekarang disebut sebagai Astronomi dan Astrologi; ilmu itu diperoleh dari penglihatan dan Sabda Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Kenyataan yang nampak bahwa pertama-tama ada hari siang dan ada hari malam; lalu ada pergerakan/ peredaran matahari, bulan, bintang terus menerus sepanjang masa. Mulailah manusia mengenal batasan-batasan waktu yang diperhitungkan menurut hari siang/ malam, timbulnya bulan purnama dan bulan gelap, lalu berpengaruh ke musim: panas, hujan, dingin, dsb.

Siklus itu menjadi ukuran waktu minggu, bulan, dan tahun ditulis dalam kitab suci Jyotisa yang tergolong Kitab Suci Wedangga; wedangga berarti “bagian-bagian” yakni alat bantu untuk mempelajari Weda.

Di dalam kitab Jyotisa ditulis nama-nama wuku (mingguan) yang diambil dari nama Raja-raja, Dewa-dewa, dan Planet-planet, yaitu: Sinta s/d Watugunung. Setelah melaksanakan anumana pramana dan mendapat pawisik Ida Sanghyang Widi Wasa, para Maha Rsi tersebut menulis pula dauh/ hari/ wuku yang baik dan buruk untuk tiap-tiap kegiatan, berdasarkan pengaruh letak bintang, garis edar bulan-matahari, dan posisi planet-planet yang lain. Ini dinamakan “dewasa” dan kumpulan dewasa disebutkan dalam “wariga”.

Lontar-lontar wariga di Bali banyak, dan para Pandita tidak selalu berpegang pada lontar yang sama. Lontar tertua yang populer digunakan sekarang berasal dari Rsi Markandeya yang disebarkan di Bali pada tahun 989 (Masehi) di zaman pemerintahan Raja: Sri Ratu Gunapriya Dharmapatni bersama suaminya Dharma Udayana Warmadewa.

Sosialisasi lontar itu pertama kali dilakukan oleh para Mpu yang menjadi Bhagawanta Kerajaan (sekarang disebut Bali-Aga) yakni yang menurunkan para warga Pasek Kayu Selem.

adapun ke-30 (tigapuluh) wuku-wuku tersebut dan bhatara yang menyertainya (lamanya masing-masing wuku adalah satu minggu mulai hari minggu-sabtu) adalah sebagai berikut :

istilah di Jawa, Bali ==>

  1. Sinta – Batara Yama
  2. Landep – Batara Mahadewa
  3. Wukir, Ukir – Batara Mahayakti
  4. Kurantil, Kulantir – Batara Langsur
  5. Tolu, Tulu – Batara Bayu
  6. Gumbreg – Batara Candra
  7. Wariga alit, Wariga – Batara Asmara
  8. Wariga agung, Warigadian – Batara Maharesi
  9. Julangwangi, Julungwangi – Batara Sambu
  10. Sungsang – Batara Gana Ganesa
  11. Galungan, Dungulan – Batara Kamajaya
  12. Kuningan – Batara Indra.
  13. Langkir – Batara Kala
  14. Mandasiya, Medangsia – Batara Brahma
  15. Julung pujut, Pujut – Batara Guritna
  16. Pahang- Batara Tantra
  17. Kuru welut, Krulut – Batara Wisnu
  18. Marakeh, Merakih – Batara Suranggana
  19. Tambir – Batara Siwa
  20. Medangkungan – Batara Basuki
  21. Maktal – Batara Sakri
  22. Wuye, Uye – Batara Kowera
  23. Manahil, Menail – Batara Citragotra
  24. Prangbakat – Batara Bisma
  25. Bala – Batara Durga
  26. Wugu. Ugu – Batara Singajanma
  27. Wayang – Batara Sri
  28. Kulawu, Kelawu – Batara Sadana
  29. Dukut – Batara Sakri. Jika jatuh hari Anggara Kasih, Selasa Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa.
  30. Watu gunung – Batara Anantaboga. Dalam minggu ini jatuh hari Jumat Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa dan hari Saraswati yang dianggap suci oleh orang Bali.
Leave a Comment more...

Hari Raya Pagerwesi

by on Jun.19, 2012, under Kitab Suci

Hari raya Pagerwesi jatuh pada hari Budha Keliwon Wuku Sinta. Dalam kalender hari suci di Bali, hari ini adalah hari ke 5 dari serangkaian hari raya penting, yaitu

Hari 1 Hari raya Saraswati Sabtu Saniscara Umanis Watugunung

Hari 2 Hari raya Banyu Pinaruh Minggu Redite Paing Sinta

Hari 3 Hari raya Soma Ribek Senin Soma Pon Sinta

Hari 4 Hari raya Sabuh Mas Selasa Anggara Wage Sinta

Hari 5 Hari raya Pagerwesi Rabu Buda Keliwon Sinta

Hari ini adalah payogan Hyang Pramesti Guru, disertai para Dewa dan Pitara, demi kesejahteraan dunia dengan segala isinya dan demi sentosanya kehidupan semua makhluk.

Pada saat itu umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha.

Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata yang sedang melakukan yoga. Menurut pengider-ideran Panca Dewata itu ialah:

1 Sanghyang Içwara berkedudukan di Timur

2 Sanghyang Brahma berkedudukan di Selatan

3 Sanghyang Mahadewa berkedudukan di Barat

4 Sanghyang Wisnu berkedudukan di Utara

5 Sanghyang Çiwa berkedudukan di tengah

(continue reading…)

Leave a Comment : more...

Desa Pakraman dan Banjar Pakraman

by on Mar.30, 2012, under Adat

Di Pulau Bali atau di Provinsi Bali terdapat istilah Desa Pakraman. Desa ini sedikit berbeda pengertiannya dengan Desa yang biasa kita pahami yakni suatu wilayah yg memiliki penduduk dgn jumlah tertentu pada suatu lingkup administrasi Desa yg terdiri dari satu atau beberapa Lingkungan/Dusun dgn dikepalai oleh seorang Kepala Desa.

Menurut Perda Provinsi Bali Nomor 6 tahun 1986 dijelaskan pengertian Desa Pakraman,Desa Dinas, Banjar Adat dan Kelurahan. Desa pakraman sebagai desa dresta adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan kahyangan tiga/kahyangan desa,yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri,serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

Banjar atau banjar adat adalah kelompok masyarakat yang merupakan bagian dari desa pakraman,serta merupakan suatu ikatan tradisi yg sangat kuat dalam suatu kesatuan wilayah tertentu,dengan seorang atau lebih pemimpin,yg dpt bertindak ke dalam atau ke luar dlm rangka kepentingan warganya dan memiliki kekayaan,baik berupa material maupun immaterial. Satu desa pakraman biasanya terdiri dari beberapa banjar adat. Namun ada pula satu desa pakraman hanya terdiri dari satu banjar adat. Desa pakraman dipimpin prajuru adat yang terdiri dari Bendesa adat dan beberapa orang pembantu/petajuh. Banjar adat dipimpin oleh prajuru banjar, yang terdiri dari kelihan banjar dan dibantu beberapa orang petajuh.

Desa dinas adalah suatu wilayah yg ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum,termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum yg mempunyai organisasi pemerintahan terendah,langsung di bawah camat, dan berhak melaksanakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa dinas atau desa, dikepalai seorang kepala desa. Desa dinas biasanya terdiri dari beberapa banjar atau sekarang dikenal dengan dusun. Dengan kondisi seperti digambarkan di atas, akhirnya dapat dijumpai satu desa pakraman terdiri dari satu desa dinas, ada satu desa pakraman terdiri dari beberapa desa dinas dan sebaliknya adat satu desa dinas terdiri dari beberapa desa pakraman.

Kelurahan adalah suatu wilayah yg ditempati oleh sejumlah penduduk yg mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat, yg tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri. Kelurahan dikepalai seorang lurah. Satu kelurahan terdiri dari beberapa lingkungan yang dikepalai seorang kepala lingkungan. Perlu ditambahkan bahwa apa yg sekarang dikenal dengan kelurahan dan desa dinas,umumnya berasal dari desa /keperbekelan, yang pada zaman dulu dipimpin seorang perbekel. Sedangkan banjar/dusum dikepalai seorang kelihan dinas/kepala dusun.

Leave a Comment :, more...

Pancaran Suci Pura Pusering Jagat Pejeng

by on Mar.24, 2012, under Pura

Pura yang termasuk ke dalam Sad Kahyangan di Bali ini letaknya di tengah-tengah Sad Kahyangan lainnya yaitu Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Uluwatu dan Pura Batukaru. Sesuai dengan letaknya yang di tengah-tengah, Pura ini merupakan pusatnya semesta atau pusatnya Bali. Pura ini terletak di Desa Pejeng yang dimasa lampau merupakan pusatnya Kerajaan Bali Kuna. Banyak pendapat yang menduga bahwa kata “Pejeng” berasal dari kata”Pajeng” yang berarti payung. Dari Desa Pejeng inilah para raja Bali Kuna memayungi rakyatnya dengan penuh kasih sayang dan cinta damai. Namun, ada juga yang menduga kata pejeng berasal dari kata pajang (bahasa Jawa Kuna) yang berarti sinar. Diyakini, dari sinilah sinar kecemerlangan dipancarkan ke seluruh jagat.

Ditemukan bahwa dalam lontar-lontar Kuna, Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Dibalik penamaan itu tentunya akan mengingatkan masyarakat Hindu pada cerita Adi Parwa yang banyak mengisahkan perjuangan para dewa dalam mencari tirta amertha (air kehidupan) di tengah lautan Ksirnawa.

Di pura ini banyak sekali terdapat arca yang menunjukkan bahwa Pura Pusering Jagat merupakan tempat pemujaan Siwa seperti Arca Ganesha (putera Siwa), Durga, juga arca-arca Bhairawa. Ada juga arca yang berbentuk unik karena menyerupai kelamin laki-laki (purusa) dan perempuan (pradana). Dalam konteks agama Hindu, keduanya yaitu Purusa dan Pradana ini merupakan yang pertama kali diciptakan Tuhan. Purusa merupakan benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana berupa benih-benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni. Di pura ini juga terdapat peninggalan kuno berbentuk bejana yang disebut sangku sudamala yang melambangkan limpahan air suci untuk kehidupan. Di dalam sangku sudamala ini terdapat gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , , , , more...

Makna hari Suci Nyepi yang Sesungguhnya

by on Mar.22, 2012, under Buah Pikiran

Banyak kalangan lain melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu Nusantara merayakan Tahun Barunya. Umat lain merayakannya dengan kemeriahan, pesta makan-minum, pakaian baru, dan sebagainya.

Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistem kalender Hindu Nusantara, yaitu di saat “Uttarayana” (hari pertama matahari dari katulistiwa menuju ke garis peredaran di lintang utara), merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana hening:

  1. Tanpa kegiatan (amati karya)
  2. Tanpa menyalakan api (amati gni)
  3. Tidak keluar rumah (amati lelungaan)
  4. Tanpa hiburan (amati lelanguan)

yang dikenal dengan istilah “Catur Berata Penyepian”.

Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mengadakan koreksi total pada diri sendiri, serta menilai pelaksanaan trikaya (kayika = perbuatan, wacika = perkataan, manacika = pikiran) di masa lampau, kemudian merencanakan trikaya parisudha (trikaya yang suci) di masa depan.

Di hari itu pula umat Hindu mengevaluasi dirinya, sudah seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada hakekat tujuan hidup di dunia ini.

Dengan amati karya, kita mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan samadhi; dalam suasana amati gni, pikiran akan lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi; pembatasan gerak bepergian keluar rumah berupa amati lelungaan dengan mengurung diri di suatu tempat tertentu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mensucikan pikiran.

Tempat itu bisa di rumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu saja dalam prosesi itu kita wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang menyenangkan yang dinikmati melalui panca indra (amati lelanguan).

Kemampuan mengendalikan panca indra adalah dasar utama mengendalikan kayika, wacika, dan manacika sehingga jika sudah terbiasa akan mudah melaksanakan tapa yadnya. Walaupun tidak dengan tegas dinyatakan dalam susastra, pada hari Nyepi seharusnya kita melakukan upawasa atau berpuasa menurut kemampuan masing-masing.

Jenis-jenis puasa antara lain: tidak makan dan minum selama 24 jam, atau siang hari saja, atau bentuk puasa yang ringan, yaitu hanya memakan nasi putih dengan air kelapa gading yang muda.

Setelah Nyepi, diharapkan kita sudah mempunyai nilai tertentu dalam evaluasi kiprah masa lalu dan rencana bentuk kehidupan selanjutnya yang mengacu pada menutup kekurangan-kekurangan nilai dan meningkatkan kualitas beragama.

Demikianlah tahun demi tahun berlalu sehingga semakin lama kita umat Hindu akan semakin mengerti pada hakekat kehidupan di dunia, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang dharma, dan menjauhi hal-hal yang bersifat adharma.

Hari raya Nyepi dan hari-hari raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyadaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tattwa atau falsafahnya.

Seandainya mayoritas umat Hindu Nusantara menyadari hal ini, pastilah masyarakat yang Satyam, Siwam, Sundaram akan dapat tercapai dengan mudah.

Kelemahan tradisi beragama umat Hindu khususnya yang tinggal di Bali, adalah terlalu banyak berkutat pada segi-segi ritual (upacara) sehingga segi-segi tattwa dan susila kurang diperhatikan. Tidak sedikit dari kita merasa sudah beragama hanya dengan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya saja.

Salah satu segi tattwa yang kurang diperhatikan misalnya mewujudkan trihitakarana. Perkataan ini sering menjadi slogan yang populer, diucapkan oleh berbagai tokoh dengan gempita tanpa menghayati makna dan aplikasinya yang riil di kehidupan sehari-hari.

Trihitakarana, tiga hal yang mewujudkan kebaikan, yaitu:

  1. Keharmonisan hubungan manusia dengan Hyang Widhi (Pariangan)
  2. Keharmonisan hubungan manusia sesama manusia (Pawongan)
  3. Keharmonisan hubungan manusia dengan alam (Palemahan)

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Rerahinan Umat Hindu Bali bulan Maret 2012

by on Mar.01, 2012, under Kitab Suci

07-03-2012. Buda Keliwon Pegatuwakan. Hari ini menghaturkan sesaji kehadapan Shang Hyang Widi, sebagai tanda puji syukur atas kemurahan beliau melimpahkan rahmatNya sehingga hari raya Galungan dan Kuningan berjalan dengan selamat.

07-03-2012. Purnama.

12-03-2012. Kajeng Keliwon Uwudan.

17-03-2012. Tumpek Krulut. Menghaturkan sesaji kepada Ida Sang Hyang Widi / Bhatara Iswara di Sanggah Kemulan, mohon keselamatan.

21-03-2012. Buda Wage Merakih. Pemujaan kehadapan Bhatara Rambut Sedana yang disebut juga Sang Hyang Rambut Kadhala.

22-03-2012. Tilem.

23-03-2012. Hari Bhatara Sri.

23-03-2012. Hari Raya Nyepi. Hari ini melakukan catur brata penyepian dan meditasi

24-03-2012. Ngembak Geni.

27-03-2012. Anggar Kasih Tambir.

Leave a Comment : more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...