Kayuselem

Tag: pura

Pura Ponjok Batu dalam perjalanan DangHyang Nirartha

by on Jun.08, 2011, under Pura

Dalam bahasa Bali “Ponjok Batu” berarti Tanjung Batu. Lingkungan Pura ini merupakan lingkungan Pura tempat pemujaan/persembahyangan umum untuk mohon keselamatan. Dari depan lingkungan pura yang dibatasi jalan raya meuju Amlapura terlihat pemandangan Laut Jawa yang terbentang luas yang dapat menimbulkan ketenangan jiwa dan menumbuhkan inspirasi bagi pengunjungnya. Laut yang tenang yang ditumbuhi beberapa pohon tua di sekitar bukit menambah keindahan lokasi dan penduduk setempat memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari.

Lokasi Lingkungan Pura Ponjok Batu ini terletak lebih kurang 24 km di sebelah Timur Singaraja, terletak di pantai Utara pulau Bali, termasuk wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.

Karena merupakan tempat persembahyangan umum, maka setiap odalan lingkungan pura ini banyak dikunjungi oleh pengunjung dari luar daerah Buleleng dan khususnya masyarakat setempat. Disamping karena keindahan alam, arsitektur lingkungan pura juga mencerminkan gaya khas yaitu seluruh bangunan terbuat dari susuban batu-batu alam yang terdapat di sekitar lokasi sangat menarik wisatawan. Sampai saat ini cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah ini, terutama para wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke obyek-obyek wisata yang ada di sebelah Timur Kabupaten Buleleng. Seperti Desa Sembiran,tarian sakral wayang wong dan dalam perjalanan menuju Karangasem.

Asal muasal berdirinya Pura atau Kahyangan ini erat hubungannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha yang juga dikenal dengan sebutan Danghyang Dwijendra, di dalam Dwijendra Tattwa antara lain dikisahkan sebagai berikut : Pada zaman pemerintahan Dalem Gelgel Sri Waturenggong, sekitar tahun Isaka 1411 atau tahun 1489 M datanglah di Bali Danghyang Nirartha yang kemudian dikenal dengan sebutan Danghyang Dwijendra.

Setelah beberapa lama beliau tinggal di Gelgel, maka pada suatu hari Danghyang Nirartha ingin meninjau daerah Bali di sebelah Utara Gunung (Den Bukit) yaitu Buleleng, yang seterusnya kalau tidak ada aral melintang beliau berniat akan terus menyeberang ke Sasak (Lombok). Sesudah beliau berjalan beberapa hari lamanya kemudian Danghyang Nirartha sampai pada suatu tempat di Pantai Utara Pulau Bali yang letaknya di sebelah barat laut Gunung Agung. Tempat itu berupa sebuah Tanjung yang terdiri dari batu batu, dan dari celah-celah batu tersebut tumbuh kayu-kayuan sehingga Tanjung Batu tersebut menjadi semak-semak. Di sana Danghyang Nirartha berhenti dan duduk di atas batu pada tempat yang agak tinggi untuk menikmati pemandangan laut Jawa yang terhampar luas yang sangat mengasyikkan dan menumbuhkan inspirasi baginya.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , more...

Rerainan dan Piodalan di bulan Mei 2011

by on May.07, 2011, under Pura

Rerainan pada bulan Mei 2011

2 Mei 2011. Tilem.

7 Mei 2011. Tumpek Landep. Mengadakan upacara selamatan terhadap semua jenis alat yang tajam atau senjata, serta memohon kehadapan Bhatara Siwa dan Sang Hyang Pasupati agar semua alat/senjata tetap bertuah.

8 Mei 2011. Redite Umanis Ukir. Persembahan kehadapan Bhatara Guru di Sanggah Kembulan.

11 Mei 2011. Buda Wage Ukir. Persembahan terhadap Sang Hyang Sri Nini, Dewa Sadhana pada tempat penyimpanan harta benda dan hari ini tidak baik untuk membayar sesuatu.

13 Mei 2011. Hari Bhatara Sri.

17 Mei 2011. Anggar Kasih Kulantir. Pada hari ini dilakukan pemujaan kehadapan Bhatara Mahadewa.

17 Mei 2011. Purnama.

23 Mei 2011. Soma Umanis Tolu. Memuja Bhatara-Bhatari di merajan/paibon.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , , , more...

Pura Ratu Pasek di Besakih

by on Apr.18, 2011, under Pura

Tulisan ini diambil dari Babad Pasek Kayu Selem. Pada tahun saka 27 (th.105 M), Gunung Agung meletus dengan sangat hebatnya, entah hal-hal apa yang terjadi pada waktu itu. Beberapa tahun kemudian, tahun saka 31 (th.109 M), Betara Tiga; Hyang Agni Jaya, Hyang Putra Jaya dan Hyang Dewi Danuh beryoga di puncak Tohlanhgkir (puncak Gunung Agung), untuk membersihkan Nusa Bali, tepatnya pada hari Selasa Keliwon Kulantir, dikala bulan Purnama, sasih Kelima, atas kekuatan yoga Betara Tiga, Gunung Agung pun meletus lagi dengan sangat hebatnya.

Memang Dewata telah mengatur sedemikian rupa, setiap upacara besar keagamaan di Bali yang sifatnya umum, Gunung Agung tetap meletus paling tidak akan dengan pertanda gempa bumi.

Setelah Upacara pembersihan Nusa Bali, pada tahun saka itu juga (31) Gunung Agung masih dalam keadaan belum begitu reda letusannya pada hari yang sangat baik, Betara Tiga di Puncak Tohlangkir, sama bertujuan agar mempunyai putra, maka Betara Hyang Agni Jaya dan Hyang Putra Jaya beryoga dengan sangat hebatnya, menghadapi api pedipaan, betapa alunan suaranya bunyi genta, hujan kembang dari angkasa.

Akibat dari kekuatan/kesucian yoganya Betara kalih, maka Gunung Agung menambah hebat letusannya, keluar banjir api dari lubang kepundannya, kilat, gempa berkesinambungan, hujan sangat lebatnya, dentuman-dentuman suara letusan tiada hentinya.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , , , more...

Mencari sesuatu?

Gunakan form dibawah untuk menjelajah halaman :

Masih belum ketemu? Tulis komentar pada postingan atau kontak kami !

Blogroll

Website yang direkomendasi...